sarikata

ketika sang waktu tidak lagi bersahabat, gunakan hati untuk bermain dengan hari

19 July 2017

haruskah memasang foto di medsos?


Seringkali saat ini kita dibingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan aurat wanita. Semakin terbukanya dunia informasi, social media dan produk smartphone, makin sering kita lihat saudari-saudari kita yang menampilkan dirinya, nama kerennya saat ini mengekspresikan diri.

Padahal tanpa mereka sadari bahwa mereka telah mengumbar aurat dan nilai-nilai kesombongan. Perlahan dan pasti kita akan membenarkan atau menganggap lumrah hal-hal yang seharusnya kita hindari. Dan akhirnya kita membiarkan saudari-saudari kita masuk kedalam fitnah yang mereka perbuat sendiri.

Sebelum mengambil kesimpulan, boleh tidaknya kita mengekspresikan diri meskipun kita sudah tutup semua aurat kita. Lebih baik kita lihat beberapa referensi dari Al Qur’an dan hadist berikut.

Apakah dan Manakah Aurat


ياأْيّهاالنّبي ّقل لأزْواجك وبناتك ونساءالمؤْمنين يدْنين من جلابيبهن ّذلك أدنىأن يعْرفْن فلا يؤْذيْن وكان الله غفورا رحيما
[59: الأحزاب]

“Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Al Ahzaab:59)

Bila dilihat dari penjelasan di atas bahwa sudah jelas aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, namun coba kita lihat penjelasan-penjelasan ulama berdasarkan mazhab (perbedaan) :

1      Mazhab Syafi’i  
Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahrom) ialah seluruh tubuh badan tanpa kecuali



2      Mazhab Hambali
Semua anggota wanita adalah aurat tanpa kecuali kepada lelaki ajnabi


3     Mazhab Hanafi  
Semua anggota tubuh wanita bagi lelaki ajnabi adalah aurat kecuali muka dan dua tapak tangan hingga ke pergelangan tangan dan dua tapak kaki


4      Mazhab Maliki
Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki adalah seluruh tubuh kecuali muka dan dua tapak tangan


Bahkan untuk sesama jenispun tidak diperkenankan melihat aurat sesama jenisnya, seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut :

عنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
((لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)) [صحيح مسلم]

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, demikian juga wanita tidak boleh melihat aurat wanita yang lain. Tidak boleh dua orang lelaki berada (tidur) dalam satu selimut demikian juga dengan wanita dilarang berbuat demikian.” [HR Muslim]


Hukum Wanita Keluar Rumah

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى [الأحزاب: 33]

“Dan hendaklah kamu (wanita) tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. [Al-Ahzab: 33]

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ [الأحزاب: 53]

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka.” [Al-Ahzaab:53]

Bila dilihat dari kedua ayat di atas, bahwa sebaik-baiknya tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Dan bilamana ada tamu atau laki-laki lain yang bukan mahram tidak seharusnya ditemui secara langsung, tapi temui mereka dibalik tabir (dinding/pintu) karena hal ini akan menjaga hati kita dari fitnah. Pada  QS Al Ahzaab ayat 53, berbicara tentang istri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang notabene hati mereka lebih baik dari hati wanita sekarang, oleh karena itu, muslimah zaman sekarang seharusnya lebih menutup diri dalam muamalah dengan lawan jenis karena hati mereka lebih mudah untuk terkena fitnah dan supaya mereka tidak membikin lawan jenis terfitnah.

Jadi sudah sangat jelas, bahwa sebaik-baiknya wanita muslim adalah menjaga kehormatannya dengan tidak menampakkan dirinya kesiapapun yang bukan mahromnya.

Perhatikan juga hadist dibawah ini :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.”
[HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad.]

Meski seorang wanita menutup seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangannya, kemudian dia jalan diantara laki-laki, tidak bisa menjamin selamatnya orang yang melihatnya dari fitnah, sebab wajah wanita memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap laki-laki. Sehingga meski seluruh badannya tertutup dengan baik akan tetapi jika wajahnya dibuka, maka itu bisa menimbulkan fitnah di hati orang yang memandangnya.

Coba bayangkan seandainya dia memasang foto dirinya di social media dan personal picture di produk smartphone, dimana para lelaki bisa melihatnya lama-lama tanpa merasa malu, sebab tidak ada orang yang tahu. Dan hal tersebut bisa mendatangkan berbagai fitnah baik bagi pria maupun wanita.

Bahkan untuk sholatpun, sebaik-baiknya tempat sholat seorang wanita adalah di rumahnya. Seperti kisah berikut :
Ummu Humaid istri Abu Humaid As-Sa’idy mendatangi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya aku suka jika salat bersamamu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي

“Aku sudah tau kalau engkau suka salat bersamaku, akan tetapi salat di kamarmu lebih baik dari pada di luar kamar, dan di luar kamar lebih baik daripada di luar rumah, dan di luar rumah lebih baik daripada di mesjid kaummu, dan di mesjid kaummu lebih baik daripada di mesjidku.” [Musnad Ahmad : Hadits hasan]

Betapa Islam sangat melindungi, menghargai dan menghormati wanita, Islam juga sangat menghormati seorang ibu. Dimana juga disebutkan dalam sebuah hadist yang terpisah, seorang ibu kita hormati sampai 3 kali dan hanya sekali bagi ayah.

Dari beberapa ayat Al Qur’an dan Hadist diatas, kita sebagai manusia yang dibekali oleh akal, maka kita bisa mengambil sebuah kesimpulan apa yang seharusnya kita lakukan. Memang tidak ada hadistnya untuk yang melarang kita untuk memasang foto kita di media social atau smartphone kita, sebab pada jaman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam belum ada.

Apakah disini kita bisa sama-sama sepakat bahwa memasang foto diri (terutama wanita) di social media atau personal picture di smartphone atau media apapun yang bisa dilihat siapapun yang bukan mahrom kita, 

08 June 2017

Ketika Tuhan Hilang - sadarkah kita?

Pernahkah kita bertanya ke diri kita apakah Tuhan masih ada di hati dan diri kita? Atau jangan-jangan Tuhan di hati dan diri kita sudah berubah wujud tanpa kita sadari...

Kita saat ini berdiri ditengah-tengah hiruk pikuk dunia yang sangat indah, penuh dengan janji-janji kesenangan yang sangat mempesona dan melenakan kita. Keindahan dan kenikmatan dunia menjadi tipu daya yang sangat menarik untuk dikejar dan diraih, sehingga banyak sekali diantara kita lupa tujuan yang sebenarnya.

Ketika kita berikrar dan meyakini bahwa Tuhan maha besar, maha pengasih, maha penyayang, yang memiliki segala alam semesta seisinya dan yang maha memberikan atas apa saja yang kita minta. Namun sering kali yang kita minta malah menghilangkan Dia di hati, pikiran dan langkah kita.

Bahkan saat ini kita semakin ketakutan dengan dunia, rasa takut akan akhirat menyingsing pergi. Sehingga tanpa sadar tindakan atau perilaku kita saat ini hanya terpaku pada nilai-nilai duniawi, demikian juga tanpa sadar hal ini kita turunkan pada anak-anak kita. Sehingga menjadikan mereka generasi yang tidak memiliki keikhlasan dan tidak bisa bertindak dengan hati ataupun tidak ada hasil timbal balik untuk dirinya sendiri.

Tanpa sadar mulai usia dini kita sudah diajarkan dan mengajarkan hal-hal yang sifatnya duniawi, meskipun bersampul akhirat.

Seperti ketika baru belajar jalan, seringkali orangtua ada yang berujar kalo bisa jalan  nanti akan kita belikan sepatu baru. Padahal sebuah fitrah kewajaran dari bayi kita tumbuh dan bisa berjalan, dengan atau tanpa sepatupun secara normal kita pasti akan bisa jalan. Kecuali Allah memberikan sesuatu hal yang spesial, sehingga kita tidak bisa menikmati nikmatnya bisa berjalan diatas kaki kita.

Ketika kita tumbuh lebih dewasa lagi, kalo bisa naik sepeda nanti akan dibelikan coklat atau ditraktir makan ditempat yang menyediakan makanan yang disuka. Kenapa tidak kita tekankan manfaat apa yang didapat ketika kita bisa bersepeda, seperti bisa mencapai tujuan dengan lebih cepat atau membuat diri kita lebih memiliki manfaat bagi orang-orang sekitar kita.

Ketika kita sekolah, kita selalu ditekankan belajar yang rajin agar nilainya bagus. Bila nilainya bagus bisa ranking di kelas, bisa mendapatkan beasiswa dan bahkan bisa melanjutkan di sekolah favorit atau sekolah yang bagus. Kenapa tidak kita diajarkan atau ajarkan untuk mensyukuri nikmat kesempatan bersekolah dengan belajar sepenuh hati menyerap ilmu hanya karena Allah dan bisa bermanfaat bagi diri dan orang2 sekitar kita. Bukannya dengan kita belajar sepenuh hati, otomatis hal2 yang bersifat duniawi akan mengikuti.

Pada saat kita bekerja, seringkali kita melihat berapa gaji yang bisa kita dapatkan dan seandainya sedikit kita tolak atau bahkan ada yang tetap diterima kerjaan itu dan kemudian bilang bekerja sesuai gaji. Sadarkah kita bahwa setelah kita menandatangani sebuah kontrak, maka itu juga mengikat dan disaksikan oleh Allah. Sehingga apa yang kita lakukan akan diganjar langsung, melalui perantara yang populer dengan sebutan gaji.

Sadarkah kita telah menggeser Tuhan kita dengan mereka semua. Seringkali kita ketakutan saat di dompet kita tidak ada uang, sehingga kita berupaya mendapatkannya dan bila susah kita upayakan dengan segala cara entah itu halal, semi halal, tidak yakin halal atau bahkan cara yang diharamkan.

Sadarkah bahwa misal saat kita melihat HP terbaru dan kita ingin banget memilikinya dan berupaya memiliki dengan harga selangit, pada saat itu kita telah geser Tuhan kita.

Dimanakah Tuhan kita, apakah masih dihati kita atau telah hilang tergantikan dengan segala keinginan duniawi. Silahkan dipertanyakan di hati kita masing-masing.

Semoga jawabannya masih ada Tuhan di hati kita, sehingga setiap langkah kaki karena Dia, setiap tindakan kita karena Dia, setiap perilaku kita karena Dia dan keikhlasan selalu ada di hati kita.

Semoga generasi-generasi saat ini dan selanjutnya akan menjadi generasi pemberi atau bisa kita sebut Give Generation, sebuah generasi yang bisa berpikir sederhana dan mampu melihat peluang sekecil apapun demi kebaikan dan kebahagiaan orang-orang disekitarnya dan semua yang dilakukan dengan keikhlasan lillahi ta'ala.

Akankah kita biarkan Tuhan menghilang dari hati kita?

21 April 2017

kosong tanpa isi

Jangan pernah menilai apa yang terlihat, cukup syukuri apa yang kita miliki saat ini atau kau akan kosong tanpa isi.

Seringkali aku dengar suara-suara sumbang seorang atas apa yang kesuksesan yang nampak dimiliki seorang yang lain. Seringkali kita telah melakukannya entah sadar atau tidak dengan pasti.

Seolah kita memasuki suatu belantara dan merasa asing disana. Lalu kita bangun apa yang jadi pemikiran kita disana, kita tanamkan persepsi kita yang kemudian menjadi bunga-bunga yang merona malu dengan indahnya.

Satu persatu kumbang dan kupu-kupu mendatangi bunga tersebut dan membangunkan kita. Geliat pemikiran kita merekah indah diantara rintik hujan pola pikir dengan romantisnya.

Indahnya sangat mempesona, penuh warna-warni dengan pesona merah jambu. Makin indah ditimpa rona marun senjakala.

Terasa sangat manis bak madu, tak satupun akan mampu menolaknya atau menyangkalnya dengan persepsi pemikiran apapun.

Namun sayang, semakin persepsi kita terbentuk maka kesadaran itu perlahan pasti makin terjaga. Ternyata semuanya hanyalah kefanaan, tak satupun yang kita inginkan akan memuaskan kita.

Karena mereka tak satupun yang memahami apa yang sebenarnya jadi kebutuhan dan keinginan kita yang sesungguhnya. Karena semua yang nampak dan dimiliki hanyalah buah dari ego yang disajikan dengan indah.

Perlahan rasa mual dan muak atas apa yang kita perjuangkan, semuanya terasa menjadi sia-sia. Satu persatu pemikiran dan persepsi yang diperjuangkan itu menyerang balik ke diri kita.

Semua yang kita bangun, pelihara dan perjuangkan tidak mampu menjaga kita dalam ketenangan. Dan akhirnya kita bunuh dan singkirkan mereka semuanya, tanpa sisa.

Lalu kita pergi dan keluar dari belantara yang telah kita bangun indah, yang kini kembali pucat pasi. Kosong tanpa isi

Hanya selongsong tubuh tanpa nyawa, terasa mati dan hampa

21 March 2017

sesungguhnya yang ada adalah ketiadaan

Saat sedang ngupi di salah satu warkop deket sekolah anak, sambil nungguin anak yang lagi ujian. Dapat temen ngobrol yang juga lagi menikmati kopi sambil ditemani singkong goreng, tahu isi dan sebatang rokok yang belum menyala di piring kecil tatakan gelas kopi-nya.

Yang menarik dari obrolan itu adalah pada saat pertanyaannya, "Kenapa kok kita bisa merasa dekat dengan gusti Allah pada saat kita terpuruk ya mas?"

Jadi teringat kembali tulisan pertamaku, ada dari ketiadaan. Itulah mungkin alasan kenapa kita selalu merasa lebih dekat dengan Allah pada saat kita terpuruk atau lagi sedih atau lagi tertimpa musibah atau lagi merasa kosong atau lagi merasa sendiri. Karena Allah sendiri ada dari ketiadaan, dari ketiadaan dan kehampaan Allah menciptakan segala yang ada di bumi, kemudian dia menuju ke langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit.

Segala kesempurnaan, kenikmatan dan keindahan yang kita rasakan, semuanya adalah ciptaan-NYA. Seringkali kita jadi lupa atas keberadaan-NYA hanya semata2 demi ciptaan-NYA, ya seringkali manusia lupa bahwa sesungguhnya dia juga ciptaan yang mencintai ciptaan dan bahkan sampai2 menyekutukan Allah.

Di cerita pewayangan atau cerita Hindu, seorang raja atau manusia jika ingin mencapai tingkat tertinggi dari rohani harus melepaskan hal yang bersifat duniawi dan menjauhkan diri dari keramaian, untuk bertapa atau bersemedi di dalam hutan belantara atau gua. Agar bisa merasakan kehadiran Allah atau Sang Hyang Widhi Wasa dan mencapai kesejatian. Di dalam kesunyian jiwa merasakan ketenangan, dalam kesenyapan hati akan merasakan kehangatan, dalam gulita akan melihat terang tanpa lentera, yang tujuan akhirnya akan merasakan kehampaan hakiki yang terasa penuh kehangatan rasa kasih.

Allah adalah ketiadaan yang nyata, kehadirannya terasa pada saat kita mampu kosongkan hati dan pikiran kita dari keinginan dunia. Maka sesungguhnya saat kita ingin meraih kehidupan dunia bukan Allah yang menjauh, tapi kita yang menjauhkan diri darinya karena kita terlena dengan kecintaan atas keindahan dan kenikmatan dunia. Namun saat keindahan dan kenikmatan dunia hilang, saat itu juga kita bisa merasakan kehadiran Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah kemana2, hanya DIA tertutup oleh keindahan dan nikmat dunia, hati kita tertutup oleh kabut kefanaan.

Iyyaa, ada dari ketiadaan... Semua yang ada disekitar kita adalah ketiadaan dan apa yang kita miliki saat ini adalah ketiadaan yang sesungguhnya. Janganlah lagi kita teripu dengan keindahan dan kenikmatan dunia, karena sesungguhnya itu semuanya adalah ketiadaan yang sesungguhnya. Ketiadaan yang menjauhkan diri kita dari DIA yang Maha Tunggal, ketiadaan yang menjadi kabut penghalang kehadiran DIA.

Jadi jawaban dari pertanyaan kenapa kok kita bisa merasa dekat dengan gusti Allah pada saat kita terpuruk, adalah tipu daya dari ketiadaan yang kita ciptakan sendiri... Karena sesungguhnya apa yang ada saat ini, berasal dari ketiadaan...

03 December 2016

Waspada Terhadap Lahirnya Generasi Bodoh

Waspada terhadap lahirnya generasi bodoh. Saat ini teknologi multimedia semakin berkembang pesat, tidak lagi perhitungan tahun atau bulan untuk hal yang baru. Perkembangan dan pengenalan produk teknologi baru bahkan sudah terhitung minggu atau mungkin hari, meskipun itu sesungguhnya tidak sepenuhnya hal yang baru atau murni ide dari yang mengenalkan produk tersebut.

Namun yang mesti kita waspadai dari semua itu adalah generasi-generasi di sekitar kita yang akan jadi penerus kita kelak. Mereka seperti generasi tanpa jiwa atau hasrat, selalu terpaku dan tergantung dengan teknologi informasi. Seolah tiada waktu yang terlewatkan mereka selalu bersama, anak-anak kita dan teknologi informasi beserta medianya seperti saudara atau sahabat karib yang tak terpisahkan. Dan ironisnya banyak diantara kita yang tidak menyadari bahaya ini, dimana teknologi ini menjadikan anak-anak atau generasi kita tidak lagi memiliki jiwa atau hasrat akan sesuatu disekitar mereka, rasa peduli merekapun perlahan dan pasti tergerus.

Ditambah lagi sudah kita ketahui bersama bahwa saat ini setiap sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya (formal/informal) berlomba-lomba meluluskan anak didiknya dengan nilai yang sangat melambung tinggi, bahkan mungkin nilai 9 atau 10 sudah tidak aneh lagi bagi kita dan berceceran, bukan lagi menjadi angka yang wow.

Siapa yang akan menyangkal anak yang memiliki nilai 9 atau 10 itu adalah seorang anak yang pintar, jelas dia anak yang pintar. Pintar dari sisi informasi atau penguasaan materi yang diajarkan di lembaga pendidikan, sangat jelas dan tanpa bisa dipungkiri. Mereka akan mampu menjawab setiap soal yang diberikan, tentunya soal yang materinya sudah pernah disampaikan ke mereka.

Namun apakah cukup hanya kita bentuk generasi yang bisa meraih angka tinggi dan masuk ke lembaga-lembaga pendidikan yang terkenal terbaik atas kualitasnya. Apakah kira-kira jawaban kita?

Generasi yang memiliki nilai tinggi tidak lebih dari sebuah buku diktat yang telah ditulis, karena mereka tahu semua materi yang telah diajarkan seperti kita menuliskan materi itu diatas sebuah kertas putih yang sudah kita bukukan. Sebuah buku yang penuh dengan materi dan informasi, tetaplah sebuah buku yang tidak bisa dengan sendirinya mengembangkan atau menerapkan apapun yang tetulis di setiap lembar halamannya. Dan tragisnya saat ini makin sering kita temukan generasi yang tidak lebih layaknya sebuah buku atau sebuah benda atau robot. Mereka hanya generasi yang bisa bekerja bila ada perintah atau logika yang diberikan ke mereka, tanpa perintah atau logika yang kita berikan, mereka seperti linglung dan kebingungan tidak tahu akan melakukan apa. Sekarang apakah kita masih bisa menggolongkan mereka yang memiliki angka tinggi dan lulusan dari lembaga pendidikan terbaik dalam kualitas, termasuk generasi yang pintar?

Menurut saya belum, apakah anda sependapat? Karena mereka hanya masih mengetahui semua teori, tapi mereka tidak tahu apakah gunanya teori yang mereka ketahui dan mereka tidak tahu cara menerapkan teori tersebut tanpa adanya sebuah perintah atau logika yang mereka terima.

Iyyaaa... Sistem nilai kita sudah bergeser, nilai iman,sosial dan budaya sudah bukan lagi utama. Rasa peduli, rasa empati, rasa hormat dan kebersamaan sudah tergerus oleh kepentingan pribadi yang bersifat materialis. Bahkan nilai-nilai sosial dan agama menjadi traumatic tersendiri bagi mereka.

Yang membuat merinding adalah kita melakukan pembiaran itu terjadi dan berjalan dari saat anak-anak kita di usia dini. Kita biarkan mereka bergantung sama multimedia, bahkan kalo kita tanya pada diri kita pribadipun, bila kita tidak tahu tentang sesuatu hal kita akan langsung search di Internet, seperti yang ngetrend saat ini "tanyain aja ke mbah Google". Dimana teknologi informasi itu membuat kita bergantung kepada mereka dan tidak sedikit yang menganggap teknologi itu canggih dan lebih pintar dari kita.

Begitupun dengan generasi-generasi kita sudah mulai bergantung terhadap teknologi informasi tersebut dan bahkan mereka menempatkan dirinya lebih bodoh dari produk teknologi informasi tersebut. Seolah tanpa teknologi informasi tersebut mereka hampir tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka tidak sadar bahwa teknologi informasi itu tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa mereka, seolah mereka menempatkan teknologi informasi itu sebagai manusia dan mereka sendiri menjadi robot yang hanya bisa bergerak bila ada teknologi itu, yang layaknya seperti budak.

Kapan kita akan lepaskan teknologi informasi itu dan tidak lagi tergantung dengannya, kapan kita mulai biasakan generasi kita untuk mulai bergerak dengan hal-hal kecil yang memicu tanggung jawab dan kreatifitas mereka atas sebuah situasi.

Akankah kita biarkan generasi kita menjadi generasi yang pasif, akankah kita biarkan generasi kita menjadi generasi yang tidak mampu mandiri, akankah kita biarkan generasi kita menjadi generasi yang egois.

Mungkinkah sistem pembentuk generasi kita yang saat ini mulai bergeser ke sistem pengajaran, kembali ke sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang mampu membentuk manusia sempurna seutuhnya, sebuah generasi yang mampu berpikir secara mandiri, kreatif, empatif dan peduli pada sekitarnya. Sebuah generasi yang memiliki kepribadian.

Sistem pendidikan tidak hanya di lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri, namun keluarga memiliki peran yang sangat besar disini. Bisakah kita kurangi rasa kekhawatiran terhadap anak kita, agar mereka lebih berani dan mandiri. Bisakah kita tidak harus penuhi semua permintaan atau hak mereka secara berlebihan, agar mereka lebih kreatif dan solutif. Sanggupkah kita saat ini melihat mereka mengatasi kesulitan mereka sendiri, agar mereka menjadi generasi yang tangguh dan pantang menyerah. Ibarat sebuah kelapa, biarkan generasi kita nantinya menjadi santan dengan kualitas yang tinggi yang keluar dari berbagai macam tekanan dan belajar akan banyak hal secara mandiri, kreatif mencari solusi, serta tak mudah menyerah mencari hal (jalan keluar) terbaik bagi masa depan mereka yang pastinya lebih banyak tantangan dibanding kita saat ini.

Rasa kasih dan sayang kita yang berlebihan, telah menimbulkan rasa khawatir yang berlebih dan selalu mengikuti kemauan generasi kita. Dan tanpa sadar kita bentuk mereka menjadi generasi pasif dan tidak mandiri, maukah anak kita termasuk golongan generasi bodoh yang tidak sanggup memimpin dirinya sendiri? Selalu waspada terhadap lahirnya generasi bodoh yang hidup seperti robot atau benda mati...

25 April 2016

ketika tangan kanan tidak lagi mampu bersembunyi




Riya’ atau pamer, tanpa kita sadari saat ini sering kita lakukan dan tanpa kita sadari menimbulkan kesombongan pada diri kita ataupun rasa iri bagi orang di sekitar kita. Ketika tangan kanan sudah tidak bisa lagi sembunyi dari tangan kiri maka disaat itulah akan makin terseret kita ke dunia materialis dan kejahatan akan semakin marak, karena banyak orang yang merasa kekurangan ditengah harta yang melimpah di sekelilingnya. Setidaknya itulah hal yang pernah terpikirkan saat saya diskusi dengan seorang sahabat puluhan tahun silam.

Bermula dari pembicaraan sembunyikan amalan, jangan sampai tangan kiri tahu apa yang tangan kanan lakukan. Dengan sebuah kisah tauladan Abu Amru bin Nujaid yang memberikan ke rakyat negeri yang sedang krisis dan kelaparan melalui Abu Utsman  Al Hirri.

Abu Amru melalui Abu Ustman memberikan 1.000 dinar untuk membantu krisis di negerinya. Karena sangat gembiranya Abu Utsman mengumpulkan majelis yang juga dihadiri Abu Amru dan Abu Ustman mengatakan, “Wahai saudara-saudaraku, aku mengharap agar Abu Amru memperoleh balasan besar, karena ia telah mewakili beberapa orang dalam ribath (melakukan penjagaan) dan telah memberi bantuan sekian-sekian…

Begitu Abu Utsman selesai bicara,mendadak  Abu Amru berdiri dan berkata, Sesungguhnya uang yang saya berikan adalah harta ibu saya dan beliau tidak ridha, maka mestinya uang tersebut dikembalikan kepada saya untuk saya kembalikan kepada beliau…”

Seketika semua yang hadir di majelis kaget, terlebih Abu Utsman yang tidak menyangka Abu Amru akan bicara begitu. Seketika itu juga Abu Utsman mengembalikan kantong berisi uang tersebut ke Abu Amru dan seluruh yang hadir di majelis bubar.

Namun pada malam harinya Abu Amru kembali datang ke rumah Abu Utsman membawa uang itu kembali dan berkata, Anda bisa memanfaatkan harta ini untuk keperluan seperti kemarin, dan tidak ada yang tahu akan hal ini kecuali kita”

Itulah penggalan kisah tauladan upaya Abu Amru yang menyembunyikan amalan kebaikannya, meskipun mungkin banyak orang yang telah kecewa dengan tindakan yang dia lakukan sebelumnya.

Namun yang sering kita lihat saat ini, makin banyak saudara-saudara kita atau bahkan kita sendiri, entah sadar atau tidak kita telah melakukan riya dan kesombongan demi kesombongan seiring berkembangnya sosial media dan katanya era keterbukaan.

Sudah menjadi hal yang wajar saat kita pergi ke suatu tempat dan kita selfi dengan latar belakang tempat dimana kita berada. Misal selfi dengan latar belakang Menara Eiffel, tanpa kita sadari itu menjadi motivasi orang untuk datang kesana dengan cara yang tidak halal dan atau membuat orang menjadi rendah diri dan minder karena kemampuannya.

Atau juga kita selfi dengan tempat makan dan makanan yang terhidang dan nampak enak atau mahal, yang tanpa kita sadari tidak semua orang yang melihat itu bisa makan ditempat seperti itu. Jangankan makan seperti yang kita makan, untuk makan layakpun dengan lauk dan 3 kali seharipun belum tentu mereka mampu.

Atau ada juga hal yang lucu, bahkan ibadahpun dijadikan update status di sosial media. Misal seperti, “lagi baca qur’an sambil balas sms ayang…”, atau
“puasa senin, jangan ajak makan siang dulu yaa…”, atau
“ini balas wa sambil yasinan”, dan banyak lagi yang lainnya

Ketika tangan kanan sudah tidak bisa lagi mampu menyembunyikan dirinya dari tangan kiri kita, disaat itulah sesungguhnya kita tekah jadi insan yang sombong dan selalu ingin dilihat atas semua yang kita lakukan.

Meskipun semuanya berbalik dari niat hati individu masing-masing, namun ada baiknya kita berpikir ulang kembali setiap apa yang akan kita lakukan. Apakah itu akan membawa manfaat atau mudharat bagi kita dan bagi orang lain. Di saat dunia informasi makin terbuka dan makin berkembangnya sosial media, kita harus lebih bisa memilah dan berpikir akibat dari apa yang akan kita lakukan.

Semoga semua tindakan, tingkah laku, langkah dan pemikiran kita akan menjadi sedekah bagi setiap orang-orang di sekitar kita. Karena sedekah sekecil apapun yang kita lakukan dengan ikhlas akan menjadikan manfaat bagi kita dan yang menerimanya, seperti tercantum dalam Al Baqarah ayat 271 yang artinya "Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu...."

22 April 2016

ketika kita ingin jadi diri kita sendiri



Ketika kita menginginkan diri menjadi diri kita sendiri, disaat itu sesungguhnya kita tidak akan pernah menjadi diri kita sendiri. Karena sebenar-benarnya kita telah menjadi diri sendiri adalah disaat kita bukan lagi diri kita sendiri.

Saat ini kita selalu disibukkan kita ingin menjadi apa, sibuk mencari jati diri kita dan siapa sebenarnya diri kita serta apa yang kita cari. Dimana saat semakin kita bersikeras mencari keberadaan diri kita, maka ke-aku-an yang akan melingkupi kita. Seperti kita ingin menjadi orang yang sabar, orang yang murah hati, atau orang yang terpandang dan titel material lainnya yang mungkin ingin kita sematkan di diri kita serta diakui oleh orang-orang sekitar kita. Maka disaat itu kita tidak akan pernah menjadi diri kita sendiri.

Namun sesungguhnya kita ini bukan apa-apa atau siapapun. Jangankan hal lain yang melekat pada diri kita, bahkan ruh dan tubuh kitapun bukan milik kita. Ruh kita adalah milik Allah SWT dan badan kita akan kembali melebur dengan bumi, yang mana sesungguhnya rangkaian ruh dan tubuh kita tersusun serta bekerja atas sunnatullah atau rangkaian ayat-ayar Allah yang tidak tertulis.

Dan sesungguhnya kita hanyalah susunan waktu yang perlahan dan pasti akan tergerus oleh waktu. Kita tidak pernah ada, yang nampak hanya wujud semu dan yang sesungguhnya kita adalah ketiadaan. Kita hidup untuk hidup, kehidupan yang kita jalani saat ini bukanlah kehidupan yang sesungguhnya dan ketiadaan saat ini yang nantinya akan jadi kehidupan yang sesungguhnya.

Disaat kita melakukan sesuatu dengan berharap menjadikan kita sesuatu, maka itu tidak akan menjadikan kita apapun untuk sesuatu itu. Lalu bagaimana kita semestinya untuk menjadi diri kita sendiri? Lihatlah air yang selalu bisa menempatkan dirinya dan menyesuaikan dirinya sesuai dengan bentuk tempatnya, lihatlah udara yang selalu bisa menyesuaikan dirinya dan memenuhi setiap ruang yang kosong. Seperti itulah kita semestinya, kita bisa meniru air ataupun udara yang selalu bisa menempatkan dirinya pada setiap tempat dan ruang, serta mereka bisa membuat tempat dan ruang itu secara keseluruhan merasakan kehadiran mereka.

Kita sejak dini selalu ditemukan dengan hal, berbuatlah sesuatu agar menjadi sesuatu. Seperti belajarlah agar kita pintar, kalo pintar kita akan mendapatkan nilai bagus, kalo mendapatkan nilai bagus akan jadi juara kelas, kalo juara kelas akan dapat beasiswa dan seterusnya dan seterusnya dan tidak akan pernah ketemu ujungnya dimana kita dan apakah kita sudah menjadi diri kita. Dimana pola pikir diatas tidak akan menjadikan kita manusia yang bersyukur dan akan menjadikan manusia egois, yang tidak akan ada batas akhirnya

Bagaimana jika pola berpikirnya berubah, belajarlah untuk menjadi pintar, kalo pintar kita bisa tularkan ilmu kita, kalo pintar kita bisa memberikan manfaat pada lingkungan kita, kalo pintar kita bisa jaga lingkungan kita. Bilamana pola pikir ini dikembangkan terus, maka kita akan seperti udara yang selalu akan masuk disetiap rongga atau ruang yang ada. Dan keberadaan kita akan dirasakan dimana saja, disitulah sesungguhnya diri kita. Karena sesungguhnya ruh yang ada di diri kita adalah milik Allah SWT, dan diri kita tidak akan pernah ada tanpa senyum, kebahagiaan ataupun binar kegembiraan insan-insan di sekitar kita.