sarikata

ketika sang waktu tidak lagi bersahabat, gunakan hati untuk bermain dengan hari
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

21 July 2014

Mengalir Seperti Air



Ungkapan mengalir seperti air sering banget kita dengar, terdengar indah atau bijak atau bisa juga dikatakan puitis. Namun ada yang mengambil hikmah dan mengartikannya dengan cara yang kurang tepat atau salah, yang ujung-ujungnya menjadi makhluk yang pasrah dan tidak memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan sesuatu selain menyerahkan pada lingkungan dan keadaan yang ada pada saat itu.

Bahkan ada yang akhirnya mengartikan manusia yang memegang prinsip hidup mengalir seperti air, adalah manusia yang tidak memiliki daya juang, tidak memiliki energy, tidak memiliki arah atau tujuan hidup dan yang juga berarti manusia yang mudah menyerah. Atau juga manusia yang memiliki pronsip ini adalah manusia yang tidak memiliki keinginan untuk sebuah prestasi atau tidak memiliki semangat untuk bersaing, karena seperti air yang akan mengalir ke tempat yang lebih rensag. Apakah memang begitu artinya? Namun bagaimana jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Coba kalo kita lihat sifat dasar air itu sendiri, air pada dasarnya bersifat tenang namun dia memiliki energy yang sangat luar biasa besar. Air juga memiliki sifat yang sangat fleksibel, jika dia berada disuatu jalan yang tertutup atau buntu dengan segera dia membelokkan diri mencari jalan lain. Air juga memiliki sifat yang selalu bergerak dan tidak mudah menyerah, dimana dia berjalan dari puncak gunung dan terus sampai menuju samudera.

Dia jika seandainya dia sampai berhentipun, dia hanya berhenti sementara untuk menghimpun energy. Setelah dia cukup kuat dan besar, dia akan melanjutkan pergerakannya dan mungkin bahkan menghanyutkan semua penghalangnya.

Dalam ketenangannya dan sifatnya yang terkendali, dia banyak memiliki manfaat bagi kita dan merupakan sumber kehidupan kita. Selain bermanfaat sebagai air minum, air bahkan juga bisa menghasilkan energy listrik, air juga bisa menyuburkan tanah disekitar kita dan air juga bisa membersihkan diri kita.

Jika kita pegang filosofi mengalir seperti air dan kita bisa mengartikan serta memahaminya dengan benar, maka kita bisa menjadi sebuah pribadi yang tenang, tangguh, bermotivasi tinggi, fleksibel, mudah beradaptasi dan membawa manfaat/kebaikan bagi kita dan lingkungan kita.

13 October 2012

menari bersama sang waktu

sang penentu sudah bersamanya selama lebih dari 8 tahun, tepatnya 8 tahun 9 bulan
aku lihat dia masih begitu cantik dan indah dalam setiap gerak serta sikapnya
selalu begitu sejak aku mengenal dia pertama kali

pancaran matanya yang meneduh dan sayu, masih terlihat indah dan terpancar semangatnya untuk terus menari
lantunan suara dalam setiap kata dan kalimatnya, masih terdengar indah, lembut dan optimis
sentuhan lembut jemari tangannya, memberikan semangat bagi setiap makhluk dan insan yang disentuhnya

dia berikan kenyamanan bagi yang ada disampingnya
dia berikan keindahan bagi yang memandangnya
dia berikan keteduhan bagi yang ada disisinya
dia berikan kebahagiaan bagi yang bersamanya
dia berikan kelembutan dalam setiap pelukannya
dia berikan kehidupan baru disetiap cintanya

begitu indah langkahnya setiap saat
begitu mempesona gerakannya di setiap waktu
begitu menawan bagi yang melihatnya

telah begitu lama dia bersabar dengan waktu, sampai suatu saat dia tidak lagi mampu menahannya
sehingga setiap gerak dan langkahnya memperlihatkan kemarahan
dia hentakkan kakinya keras-keras ke bumi
dia hantamkan kepalan tangannya ke udara kosong yang begitu keras
tampak memerah bara raut mukanya
begitu nanar matanya melihat waktu

namun kemarahannya masih terlihat indah dalam setiap geraknya
telah begitu lama dia menari bersama waktu
kesedihan, pasrah, putus asa dan sakit yang dia rasakan tertutup indah bersama sang waktu 
waktu yang selalu membuatnya menunggu saat-saat dia harus menemui sang Khalik

dia selalu menari bersama waktu
dalam kebahagiaan, dalam kesedihan
dalam kepasrahan, dalam keputus asaan
dalam sakit, dalam amarah
namun senyum dan geraknya tidak menampakkan semua rasa itu
semua nampak indah dalam tariannya

22 December 2011

Tentukan Nilai baru Target

Tentukan nilaimu terlebih dahulu, baru pasang targetmu.. Kenapa? itulah pertanyaan spontan yang aku lontarkan saat pertama mendengar kalimat itu

Kenapa harus nilai dulu? Kenapa bukan target? Dan kenapa harus ada nilai sebelum ada target?

Sering kali kita sering salah langkah, dengan menentukan target terlebih dahulu tanpa kita tahu kenapa kita harus pasang target tersebut. 
Dan ujung-ujungnya sering kita dengar :
"gagal lagi dech... targetnya lepas"
"sepertinya targetnya terlalu jauh yaa... gak mungkin dech tercapai"
"target sudah ditangan, tetap saja tidak tercapai"
Bahkan mungkin makian "bangsat, target sialan... selalu gak kepegang"

Kenapa target itu tidak tercapai? Karena kita tidak fokus
Kenapa tidak fokus? Karena kita tidak tahu tujuannya... bagaimana, kenapa dan kemana kita capai target tersebut
Kenapa tidak tahu tujuannya? Karena kita tidak tahu di posisi mana kita akan berdiri

Maksudnya posisi?
Posisi atau sama dengan kedudukan atau juga disebut dengan penempatan atau bisa juga kita sebut dengan rangking dan ketemu-ketemunya adalah sebuah angka. Dan angka itu bukanlah target, tapi sebuah nilai.

Contoh :
  1. Pada saat kita sekolah : setiap pelajar pasti targetnya adalah lulus, syarat dari lulus adalah memiliki nilai yang sesuai dengan standard kelulusan. Seandainya kita mau lebih, misalnya lulus dengan predikat terbaik, berarti kita harus punya nilai yang paling tinggi
  2. Pada saat kita ingin menikah : sebelum kita bisa menikah, kita harus memposisikan diri sebagai insan yang matang, dewasa dan siap dengan keterikatan. Sehingga setiap orang yang melihat kita akan menilai bahwa diri kita sudah layak memiliki pasangan hidup dan layak dijadikan pasangan hidup
  3. Di sebuah perusahaan : setiap perusahaan pasti ingin keuntungan dan dimana di era persaingan yang sangat ketat untuk menentukan keuntungan harus berani memposisikan diri akan berdiri dimana. Jadi sebelum memasang target keuntungan atau target penjualan, sebuah perusahaan harus melihat dulu posisi perusahaan terbesar di bidang usaha yang sama dan baru menentukan nilainya. Misal perusahaan tersebut menentukan nilainya sebagai perusahaan no. 2 atau bisa jadi akan menguasai 45% pasar, dari sana perusahaan itu baru bisa menentukan targetnya.
Dengan menentukan nilai kita, kita bisa menjadi insan yang matang, dewasa dan tenang. Karena kita memiliki motivasi, rencana, jalan keluar dan tujuan yang sudah jelas, yang mungkin belum tentu lawan kita memilikinya.
Dengan punya nilai, kita bisa menentukan langkah kita 2-5 langkah lebih kedepan dibandingkan pesaing kita.
Dengan memiliki nilai pesaing kita akan segan kepada kita, karena langkah kita pasti lebih tak terduga dan sulit diikuti.

Tentukan nilai diri kita, baru tentukan target kita

07 December 2011

Berat atau Ringan

Berat atau ringan adalah sebuah pilihan, pilihan bagaimana kita menjalani dan menempatkan diri kita di perjalanan kehidupan kita. Bagaimana kita mencatatkan sesuatu untuk diri kita, sebagai apa, sebagai siapa, dimana, kapan dan ke arah mana, hanya kita masing-masing yang tahu.

Bahkan lingkunganpun hanya merupakan sebagian kecil dari diri kita dan yang paling bisa menentukan hanya kita sendiri, karena semua akan tertoreh dan terbentuk sesuai keinginan kita. Apakah yang kita hadapi berat atau ringan adalah buah dari pemikiran kita sendiri.

Ada kalimat bijak yang bisa membuat aku terus berdiri dan berlari meskipun gunung ditaruh dipundakku dan lobang besar dihadapanku, yaitu "berilah target beban pada dirimu seberat mungkin, carilah solusi untuk mencapainya seringan mungkin"

Pernah juga aku mendengarkan ucapan temanku, pada saat kami merencanakan target tahun depan, "hanya orang bodoh yang merencanakan target yang realistis untuk dicapai, karena target memang bukan untuk dicapai tapi untuk di kejar dan di jangkau dengan usaha". Dan inipun kembali kami bertiga membuktikan, alhamdulillah target tahun depan yang tidak realistis bagi kami (500% dari target realistis) sudah pasti akan kami capai di bulan ke-5 tahun 2012 sekitar 63%. Yang artinya dari target realistis kami, kami telah mencapai 315%

Mari kita tetapkan dihati kita, bahwa di dunia ini tidak ada yang berat. Berat atau ringan semua tergantung dari diri kita sendiri, karena Allah SWT tidak akan memberikan beban ke umatnya bilamana umatnya tidak bisa menghadapi beban ataupun cobaan tersebut.

29 November 2011

Menikmati Saat-Saat Kita ’Merasa’ Dijadikan Sebagai Bumper - DK

“$#!^!, gua melulu yang dijadikan bumper!” Ini adalah umpatan yang cukup sering kita dengar. Rupanya banyak juga ya orang yang ‘merasa’ dirinya dijadikan sebagai bumper bagi kepentingan pihak lain. Selama ini, saya tidak benar-benar memahami makna umpatan itu. Tetapi tadi malam, saya mendapatkan ‘penjelasan’ yang terang benderang. Saya dalam perjalanan pulang dari sebuah sesi training di Bandung ketika di kilometer 66 tol Cikampek mobil di depan saya mengerem mendadak. Dia melakukan itu karena truck raksasa didepannya mengerem mendadak. Dan saya yakin, truck itu mengerem mendadak karena kendaraan didepannya juga mengerem mendadak. Semua mobil yang kompak mengerem mendadak didepan saya itu selamat dari hantaman mobil dibelakangnya. Sayang, mobil saya ditabrak oleh mobil lain di belakang saya. Benturan keras itu menimbulkan kerusakan berat di bumper belakang mobil saya.

Sekarang, saya mulai bisa memahami apa yang dirasakan oleh mereka yang ‘merasa’ dirinya dijadikan sebagai bumper. Mereka ‘merasa’ dirinya harus menanggung resiko dan kesulitan untuk melindungi orang atau pihak lain. Boleh jadi sebenarnya saya juga pernah diposisikan seperti itu. Mungkin, Anda juga demikian. Kita semua sama-sama pernah berada pada posisi sebagai bumper itu. Bedanya, ada orang yang ‘merasa’ dan ada yang ‘tidak merasa’. Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk menikmatinya. Jika tidak, maka kita akan ‘merasa’ sangat tersiksa. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menikmati saat-saat menjadi bumper; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:

1. Ikhlas menerima peran yang memang seharusnya kita mainkan.

Saya memandang bumper mobil itu dengan perasaan sayang. Apa yang akan dia katakan seandainya bisa bicara? Apakah dia akan mengeluhkan perannya? “Mengapa aku yang harus menanggung sakit ini, sedangkan jok kulit itu enak-enakan bertengger di ruang ber-AC!” Setelah mengerahkan seluruh daya imajinasi yang saya miliki, saya menyimpulkan bahwa sang bumper tidak mengeluh seperti itu. Bersama baut, roda, tuas transmisi, pedal gas, lampu, serta semua komponen pembentuk mobil itu dia telah memahami perannya masing-masing. Mereka faham apa yang menjadi bagian tanggungjawabnya, serta resiko yang harus dipikulnya. Maka ketika resiko itu terjadi, mereka tidak mengeluhkannya sama sekali. Pedal gas tidak pernah mengeluh sekalipun diinjak-injak. Roda tidak kesal karena harus terus berlari sepanjang perjalanan yang tanpa henti. Mesin tidak mengomel sekalipun selalu berada pada tempat yang paling panas. Dan bumper itu? Menerima dengan ikhlas ketika perannya sedang sangat dibutuhkan. Malam itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa setiap orang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Selama kita ikhlas menerima peran itu, maka kita akan dapat menikmatinya.

2. Setiap peran dan tindakan pasti ada perhitungannya.

Pagi-pagi sekali, saya mendatangi bumper itu. Lalu mengelusnya dengan lembut, dan saya katakan;”Terimakasih, kamu telah menyelamatkan jiwa kami….” Itulah ‘reward’ terbaik yang bisa saya berikan. Tidak lebih. Karena bahkan bengkel pun tidak akan bisa mengembalikan bentuknya. Selesai sudah perjalanan hidupnya. Manusia, jauh lebih beruntung daripada benda-benda. Karena setelah ‘selesai’ menunaikan tugasnya, setiap insan akan memasuki ‘dunia baru’ dimana disana setiap peran dan tindakan yang kita mainkan diperhitungkan. Orang-orang yang telah secara ikhlas memainkan peran dan tanggunjawabnya pasti akan mendapatkan pahala yang memuaskan. Sedangkan mereka yang menggerutu atau melarikan diri dari tanggungjawabnya pasti akan ditanya;”mengapa kamu begitu?”. Dunia hanyalah sekedar persinggahan bagi kita. Disini, kita hanya sekedar berhenti sebentar untuk mengumpulkan cukup bekal. Agar di kehidupan berikutnya, kita bisa tinggal dengan nyaman dan menyenangkan.

3. Periksa apakah Anda sudah berada posisi yang seharusnya.

Ikhlas, tidak sama artinya dengan selalu menerima apapun yang ditimpakan kepada kita. Ikhlas berarti bertanggungjawab penuh terhadap fungsi dan peran yang sepatutnya kita mainkan. Dan ikhlas, juga berarti menempatkan segala sesuatu pada posisi dan proporsinya masing-masing. Saya membayangkan jika bumper itu ditukar posisinya dengan stir pengendali kemudi. Atau sebaliknya. Tentu mobil itu tidak lagi bisa berfungsi. Begitu juga halnya kita. Jika fungsi dan peran kita adalah sebagai bumper, maka tidak fair jika kita iri pada fungsi orang lain yang kita pandang ‘lebih enak’. Tetapi, jika peran kita sebagai baut, namun difungsikan sebagai bumper; maka kita berhak untuk menolak. Bukan menolak karena kita tidak menyukainya, melainkan karena fungsi kita tidak akan pernah optimal jika diposisikan tidak pada tempatnya. Maka jika Anda masih ‘merasa’ sering dijadikan sebagai bumper, ada baiknya juga untuk melihat dimana sebenarnya posisi Anda. Jika memang itulah posisi Anda, maka ikhlasnya Anda berarti menerima kenyataan bahwa memang Anda adalah bumper. Jika posisi Anda bukan bumper, maka ikhlas bagi Anda adalah untuk mengingatkan ‘sang pemilik mobil’ bahwa Anda bisa berkontribusi optimal pada tempat dimana Anda seharusnya berada.

4. Memasang penyerap guncangan bagi jiwa kita.

Makna harafiah dari kata ‘bumper’ adalah ‘shock absorber’. Merenungkan makna ini saya menjadi ingat tentang betapa banyaknya hal yang bisa membuat jiwa kita shock. Kabar yang tidak kita inginkan, perlakukan yang mengecewakan, kehilangan sesuatu yang kita sayangi; adalah beberapa contoh peristiwa yang bisa mengguncangkan jiwa kita. Ada orang yang sedemikian terguncangnya hingga kehilangan akal sehat. Ada yang terus tenggelam dalam guncangan itu hingga tidak lagi memiliki semangat. Namun, ada pula orang-orang yang setelah diterpa berbagai persoalan; tetap tangguh dan tegar. Apa yang membedakannya? Mereka yang tegar itu memiliki penyerap guncangan bagi jiwanya. Mereka memasang jenis penyerap guncangan yang paling bisa diandalkan. Tahukah Anda apakah gerangan itu? Brand terbaik untuk bumper depan adalah ‘sabar’. Sedangkan bumper belakang yang paling handal adalah ‘tawakal’. Hanya dengan dua jenis ‘shock absorber itulah kita bisa menjaga agar jiwa kita tetap terlindung dari pengaruh buruk yang menyesakkan.

5. Kita dilindungi oleh bumper yang tangguh dan tidak pernah lengah.

Fungsi utama sebuah bumper adalah untuk melindungi mobil dari kerusakan dan resiko yang membahayakan. Maka sebuah bumper harus sanggup melindunginya sepanjang waktu tanpa sedetikpun lengah. Sayangnya, bumper mobil itu memiliki kelemahan, yaitu; kekuatannya yang terbatas. Selain dia sendiri bisa hancur, mungkin ada bagian body mobil lainnya yang tidak terlindung. Kita semua sungguh sangat beruntung karena memiliki pelindung yang selain sangat kuat, juga tidak pernah sedetikpun berhenti menjaga kita. Masih ingatkah Anda siapa pelindung kita itu? Dia adalah Dzat yang tidak pernah tidur. Dia adalah sang pemilik segala kekuatan. Dan Dia, adalah sang pemilik hidup dan mati setiap mahluk. Mobil kesayangan Anda, mungkin menggunakan bumper tambahan yang selain berfungsi sebagai penguat, juga menjadi asesoris penghias yang indah. Kepada diri sendiri, bersediakah kita untuk menjadikan Dia yang maha pelindung sebagai penjaga dan penghias hidup kita?

Setiap detik dalam hidup kita adalah kombinasi agung dari resiko dan kesempatan. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi, pada detik yang sama juga tersimpan kemungkinan kesedihan, bahkan kematian. Bisakah kita memohon keselamatan dan kebahagiaan selain kepada Tuhan? Dengan kata lain; Adakah pelindung yang lebih baik selain Allah? Tidak. Dialah Tuhan yang hanya satu. Dan satu-satunya yang bisa menjawab doa-doa kita. Dan Dialah satu-satunya yang layak kita sembah. Dialah sebaik-baiknya pelindung; dalam setiap detak detik-detik, yang kita lalui. Yuk, kita berserah diri hanya kepadaNya saja…..

02 August 2011

Terbang Bersama Layang-Layang - DK

“Biarkan hidup mengalir seperti air,” begitulah nasihat yang sering kita dengarkan. Namun, ada kalanya aliran air tidak membawa kita ke tempat yang semestinya. Maka mulailah kita mempertanyakan banyak hal. Sewaktu dihadapkan pada situasi sulit, kita mempertanyakan; mengapa Tuhan membiarkan saya mengalami ini? Saat dituntut untuk mengikuti aturan, kita menggugat; mengapa saya tidak diberi kebebasan? Ketika mengalami kehilangan, kita menghujat; mengapa saya tidak bisa memilikinya selamanya? Kadang kita merasa bosan mengikuti aliran air, sehingga kemudian kita bertanya; bisakah kita terbang saja?

Salah satu mimpi masa kecil yang sering hadir dalam tidur saya adalah saat bermain layang-layang. Tadi malam pun saya memimpikan hal itu lagi. Pagi ini saya bertanya-tanya, mengapa saya sering memimpikan tentang layang-layang? Saya tidak bisa melepaskan diri dari pertanyaan itu meski telah berusaha untuk melupakannya. Di kamar mandi, di ruang tivi, di depan komputer. Kepala saya hanya dipenuhi oleh pertanyaan;’mengapa harus bermimpi tentang layang-layang?” Saya belum benar-benar terpuaskan hingga menemukan bahwa layang-layang menyembunyikan berbagai isyarat tentang kehidupan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar terbang bersama sang layang-layang; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1.      Untuk bisa terbang tinggi kita membutuhkan tempaan  
Layang-layang hanya bisa terbang jika ada angin yang menerpanya. Coba ingat-ingat kembali, bukankah sewaktu kecil dulu Anda kecewa jika disore hari tidak ada angin untuk menerbangkan layang-layang Anda? Hidup kita kira-kira juga demikian. Angin yang bertiup kencang itu tidak ubahnya dengan terpaan yang menempa hidup kita. Kita sering mengira bahwa kehidupan yang serba tenang itu jauh lebih baik. Lebih nyaman mungkin iya. Tetapi lebih baik? Belum tentu. Justru dalam kehidupan yang serba tenang dan nyaman, kita tidak terdorong untuk mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki. Bayangkan ketika segala sesuatunya dalam hidup Anda sedang baik-baik saja. Bukankah Anda tidak tertarik untuk berkeringat lebih banyak? Padahal, boleh jadi dengan berkeringat itulah justru kegigihan diri Anda semakin teruji. Rasa syukur Anda tergali. Dan nilai empati Anda kepada orang lain menjadi semakin tereksplorasi. Layang-layang membutuhkan terpaan angin untuk bisa terbang tinggi. Kita, membutuhkan tempaan dan ujian kehidupan untuk bisa naik kepada tingkatan nilai pribadi yang lebih tinggi. Maka saat memasuki masa-masa yang penuh dengan ujian dan cobaan, mungkin kita perlu lebih banyak bersyukur. Karena kita punya kesempatan untuk bisa terbang lebih tinggi.

2.      Untuk bisa bertahan kita membutuhkan kendali dan aturan 
Apa yang terjadi jika benang itu terputus? Layang-layang Anda akan hilang, bukan? Dia membutuhkan benang yang mengikatnya untuk bisa terbang dengan baik. Benang yang mengendalikan dan memberinya arah untuk berbelok ke kanan, ke kiri, atau bahkan berputar. Pendek kata, layang-layang itu membutuhkan alat pengendali yang mengaturnya. Bayangkan jika hidup kita dibiarkan tanpa kendali. Kita mengira bisa terbang bebas? Tidak. Justru kita membutuhkan sesuatu yang mengendalikan hidup kita. Sistem nilai, tatanan sosial, struktur kemasyarakatan, atau seperangkat peraturan yang mesti kita patuhi. Keliru jika kita mengira hidup akan lebih baik tanpa aturan. Mengapa? Karena orang-orang kuat cenderung bernafsu untuk mengambil keuntungan paling banyak. Sedangkan orang-orang lemah cenderung diinjak-injak. Tanpa aturan, kita cenderung bertindak sesuka hati. Yang penting tujuan kita tercapai. Perhatikan kembali layang-layang yang talinya terputus itu. Apakah dia terbang makin tinggi? Mungkin. Ketika angin memihak kepadanya. Tetapi setelah angin berhenti bertiup, dia akan jatuh tanpa ada yang memperdulikannya lagi. Seperti itulah hidup kita, jika tanpa kendali dan aturan.

3.      Hidup adalah tentang menarik atau mengulur
Apa asyiknya bermain layang-layang jika dia hanya dibiarkan diam. Kenikmatannya justru kita rasakan ketika kita menarik dan mengulur benang nilon yang mengikat layang-layang itu. Dengan tarikan itu dia bisa berbalik arah atau melakukan manuver-manuver yang mengagumkan. Lalu kita ulur lagi, tarik lagi, dan ulur lagi. Kadang dia menjauh, kadang mendekat lagi. Hidup kita tampaknya juga begitu. Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang pergi menjauh. Kita sering sedih karenanya. Ada banyak hal lain yang datang mendekat. Kita sering merasa berat menerimanya. Padahal hidup memang tentang mendekat dan menjauh. Datang dan pergi. Timbul dan tenggelam. Begitulah hidup yang sesempurna-sempurnanya. Yaitu hidup yang memiliki kelengkapan dinamika yang dimainkannya. Tidak ada orang yang hidupnya bahagia terus, percayalah. Bahkan mereka yang hartanya melimpah ruah. Warna dalam kehidupan tidak didapatkan dari kehidupan yang serba nikmat. Faktanya, kenikmatan yang kita miliki sering kehilangan makna jika kita tidak pernah tahu ‘tidak nikmat’ itu seperti apa. Sesuap nasi yang kita kunyah, akan terasa lebih nikmat jika kita baru saja merasakan betapa perihnya tidak memiliki makanan. Nikmat sehat tubuh ini justru mulai benar-benar kita sadari setelah kita diberi sakit. Keindahan hidup terletak pada kombinasi tarik dan ulur itu.

4.      Belajar untuk terbang dalam keindahan
Dulu, bentuk layang-layang tidak terlalu banyak. Variasinya paling-paling pada sirip dan ekornya yang ditambahi asesoris lebih panjang. Sekarang, kita bisa melihat layang-layang dalam kreasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ada yang berupa pesawat terbang, naga, bahkan kapal pesiar. Banyak hal baru disekitar kita. Kita sering tidak menyadari jika orang-orang disekitar kita terus berkreasi tanpa henti. Kita sering merasa semua yang ada pada diri kita sudah menjadi yang terbaik, padahal kita tidak memperhatikan kemajuan seperti apa yang telah berhasil diraih oleh orang lain. Pergilah ke festival layang-layang. Disana akan Anda temukan berbagai macam kreasi yang mencengangkan. Pergilah ke komunitas yang berisi orang-orang kreatif, maka kita akan menyadari bahwa kita harus lebih kreatif lagi. Bertemulah dengan orang-orang baik, maka kita akan terdorong untuk menjadi lebih baik. Mereka bukan sekedar mengajak kita untuk terbang, melainkan mengajarkan bagaimana caranya untuk terbang dalam keindahan perangai, dan perilaku positif lainnya.

5.      Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya
Saat bermain layang-layang, kita selalu ingin menerbangkannya setinggi mungkin. Kita biarkan mereka naik menuju ke langit tertinggi. Semakin tinggi, semakin baik. Mengapa begitu? Karena sudah menjadi sifat dasar kita untuk menyukai sesuatu yang bernilai tinggi. Kualitas tinggi. Daya juang tinggi. Nilai-nilai pribadi yang tinggi. Akhlak dan moral yang tinggi. Bahkan kita menyebut perilaku manusia yang menyerupai binatang sebagai moral yang rendah. Mengumbar nafsu. Tidak tahu malu. Serakah. Semuanya tidak cocok dengan cetak biru kepribadian kita. Secara inheren kita memahami bahwa manusia diciptakan dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahluk lainnya. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya jika perilaku dan tindak tanduk kita mencerminkan hal itu. Jika kita tergoda untuk melakukan perbuatan ‘mirip binatang’, ingatlah bahwa kita diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi dari mereka. Pantas jika kita belajar membebaskan diri dari perilaku dan nafsu hewani. Karena Tuhan, telah menciptakan kita dalam derajat dan tingkatan yang jauh lebih tinggi. Pantasnya, dengan semua ketinggian yang sudah Tuhan anugerahkan itu, kita bisa belajar untuk semakin mempertinggi nilai kemanusiaan kita. Karena Tuhan itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Dan Dia, hanya bisa dicapai oleh pribadi-pribadi yang memiliki akhlak mulia yang tercermin dalam perilakunya yang bernilai tinggi.  

Setiap hari, kita berhadapan dengan tempaan dan terpaan angin kehidupan. Kita sering ingin berhenti karena jengah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Padahal, cobaan yang kita hadapi itu adalah jalan menuju kepada tingkatan nilai pribadi yang lebih tinggi. Guru kehidupan saya pernah mengingatkan;”Janganlah engkau mengira dirimu sebagai orang yang baik, padahal Tuhan belum mengujimu dengan cobaan-cobaan yang menyulitkan.” Guru saya benar. Betapa mudahnya untuk menjadi baik ketika keadaan sedang serba indah. Namun, cobalah sesekali membayangkan seandainya kehidupan kita tidak sebaik itu. Apakah kita bisa menjadi pribadi yang juga baik? Semoga kita dapat menjalani setiap ujian dan cobaan hidup dengan sebaik-baiknya. Dan kita lulus untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

30 July 2011

Antara Kontribusi, Manfaat dan Kompensasi - D.K

'There is no free lunch'
Ngimpi namanya jika kita mengharapkan segala sesuatunya bisa diperoleh secara gratis. Harus ada usaha untuk segala sesuatu yang kita inginkan. Memang, setiap orang mempunyai keinginan yang berbeda-beda. Namun semua orang memiliki keinginan yang sama, yaitu; dibayar setinggi-tingginya. Dalam konteks dunia kerja, kita mengharapkan manfaat dan kompensasi alias gaji yang tinggi. Faktanya, banyak orang yang mengajukan tuntutan yang berlebihan. Atau sebaliknya, banyak perusahaan yang mengabaikan kewajiban untuk memberi imbalan sepadan kepada para karyawan. Padahal, ada nilai-nilai kepantasan yang harus sama-sama kita tegakkan. Karena hubungan kerja dibangun dalam azas kesetaraan.

Sekitar satu kilometer dari tempat tinggal kami ada sebuah toko swalayan kecil yang memiliki fasilitas ATM. Hal itu sangat memudahkan kami dalam banyak hal. Selain kemudahan itu, bagi saya mesin ATM memberi pelajaran berharga tentang apa yang kita miliki didalam diri kita. Selama Anda punya tabungan, maka selama itu pula Anda bisa mengambilnya. Tabungan itu tak ubahnya seperti kemampuan pribadi kita dalam berkontribusi. Selama kita memiliki tabungan itu, maka selama itu pula mesin ATM akan memenuhi permintaan kita. Selama kita bisa berkontribusi, kita bisa mengharapkan sejumlah pendapatan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami peran kontribusi kepada manfaat dan kompensasi untuk hidup kita sendiri; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1. Mesin ATM mau melayani hanya jika kita memiliki tabungan
Bagi para professional, mesin ATM itu mewakili perusahaan tempatnya bekerja. Bagi saya, ATM itu seperti perusahan-perusahaan yang menjadi klien atau pengguna jasa pelatihan in-house yang saya selenggarakan. Meski agak berbeda tetapi mempunyai fungsi yang sama yaitu; tempat kita 'mencairkan' kemampuan dan mengkonversinya menjadi sejumlah penghasilan. Jika di mesin ATM tabungannya berupa uang, maka dalam konteks pekerjaan; tabungannya adalah 'kontribusi' melalui pekerjaan yang kita lakukan. Anda harus mempunyai tabungan untuk bisa mendapatkan manfaat dari mesin ATM. Anda juga harus memberikan kontribusi agar bisa memperoleh sejumlah manfaat dari perusahaan. Semakin banyak tabungan Anda, semakin besar dukungan kesediaan ATM untuk melayani Anda. Semakin tinggi kontribusi kepada perusahaan, semakin besar juga manfaat yang bisa Anda dapatkan. Jadi jika Anda ingin mendapatkan manfaat yang sebanyak-banyaknya dari perusahaan tempat Anda bekerja, maka Anda harus memastikan bahwa Anda mampu menabung cukup banyak kontribusi kepada perusahaan.

2. ATM mengeluarkan uang tidak lebih dari jumlah yang kita punya
Kita tidak akan pernah bisa mengambil uang di ATM melebihi jumlah saldo tabungan yang kita miliki. Jika memaksakan diri, maka itu namanya 'ngimpi'. Kita juga sering 'ngimpi' untuk mendapatkan bayaran yang setinggi-tingginya, sambil berkontribusi alakadarnya. Jika kita ingin digaji tinggi, maka kita juga harus berkontribusi tinggi. "Gaji tinggi dulu dong, barulah kita berkontribusi tinggi!" begitu argument yang sering kita dengar di kantor-kantor. Memangnya di mesin ATM Anda bisa mengambil uang dulu, baru kemudian Anda menabung? Tidak. Dikantor juga sama. Kontribusi tinggi duluan. Setelah itu, barulah kita bisa mengharapkan imbalan yang sepadan. Makanya, mulailah berfokus kepada 'memperbanyak kontribusi' kepada perusahaan. Soal tuntutan imbalan secara otomatis mengikutinya kemudian. Semakin besar tabungan kita, semakin banyak uang yang bisa kita ambil di ATM. Semakin tinggi kontribusi kita, maka semakin besar juga manfaat yang bisa kita dapatkan dari perusahaan. Mengapa demikian? Karena tidak ada mesin ATM yang bisa mengeluarkan uang melebihi tabungan yang kita punya.

3. Semakin banyak yang diambil, semakin banyak yang harus ditabungkan.
Sampai kapan Anda bisa mengambil uang di ATM? Sampai uang yang Anda tabungkan tidak tersisa lagi. ATM, menghitung berapa uang yang Anda tabungkan, dan berapa yang sudah Anda ambil kembali. Jika tabungan Anda sudah habis, maka ATM itu tidak mau lagi mengeluarkan uang untuk Anda. Perusahaan tempat kita berkerja dikelola berdasarkan neraca rugi laba. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkannya akan dihitung secara seksama. Termasuk gaji dan manfaat lainnya yang kita terima. Siapa saja yang mampu memberikan kontribusi lebih tinggi dari manfaat dan kompensasi yang didapatkannya mempunyai peluang untuk terus dipekerjakan. Sedangkan mereka yang tidak bisa memberikan 'nilai lebih' dari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan; cepat atau lambat juga pasti akan dikeluarkan. Maka tidak ada cara lain untuk mempertahankan hubungan kerja kita kecuali dengan memberikan kontribusi yang setinggi-tingginya. Sebab jika tidak, orang lain yang berkontribusi lebih tinggi akan mendapatkan kesempatan lebih dulu dari kita.
Mengapa? Karena semakin banyak yang kita ambil, semakin banyak juga yang harus kita kontribusikan.

4. Keberadaan mesin ATM tidak mempengaruhi kepemilikan kita.Beberpa bulan lalu, ATM di toko itu yang digondol pembobol. Anehnya, orang-orang tidak gundah atas hilangnya mesin ATM itu. Mengapa? Karena hal itu tidak mempengaruhi kepemilikian uang kami. Uang direkening milik kita tidak pernah bisa dibobol maling yang menggondol mesin ATM itu. Perusahaan tempat kita bekerja juga tidak ubahnya dengan mesin ATM. Dia merupakan tempat dimana kita bisa 'mengambil' hak kita setelah mengabdikan diri dengan segenap kemampuan dan keahlian yang kita miliki. Bagaimana seandainya kita tidak lagi bekerja disana? Mungkin kita tidak pernah merasakan betapa sedihnya orang yang kehilangan pekerjaan. Namun sekedar membayangkan pensiun pun kita masih sering merasa ngeri. Kita suka mengira bahwa tanpa perusahaan yang mempekerjakan kita ini, maka kita kehilangan banyak hal dalam diri kita. Padahal, 'apa yang kita miliki didalam diri kita' tidak bisa direnggut oleh siapapun. Perusahaan mungkin bisa mengambil pekerjaan kita. Tetapi tidak keahlian, pengalaman, dan keterampilan kerja kita. Maka dari itu, jika suatu saat kita harus kehilangan pekerjaan kita; berbesar hatilah. Dan terus berjuanglah untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian yang kita miliki.

5. Tabungan yang bunganya berlipat-lipat.
Entah disadari atau tidak, tabungan kita diganjar dengan tambahan bunga bank. Namun, bunga tabungan itu terlalu kecil sehingga kita tidak merasakan manfaat yang bermakna. Makanya, kita sering menggunakan bank dan mesin ATM hanya untuk sekedar menitipkan untuk sementara. Cukup 'terima-kasih' saja. Setiap kali kita 'terima' dihari gajian kita langsung 'kasih' ke berbagai macam rekening tagihan. Kita tidak tertarik untuk menyimpan uang itu berlama-lama di bank. Bagaimana jika ada bank yang memberi bunga berlipat-lipat dari tabungan yang kita simpan? Dua kali lipat. Sepuluh kali lipat. Bahkan tujuh ratus kali lipat. Bersediakah Anda menabung lebih lama? Anda mau sih, tapi ragu jika ada bank yang seperti itu. Iya kan?

Ada. Namun bank itu bukan tempat penyimpanan uang, melainkan tempat tersimpannya segala amal perbuatan. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan itu laksana sebutir benih yang tumbuh menjadi sepuluh tangkai. Sedangkan dalam setiap tangkai itu, terdapat tujuh puluh

buahnya. Maka setiap kebaikan kita diganjar dengan bunga dan buah sebanyak 700 kali lipatnya. Sekarang, sudah ada 'bank' yang memberi bunga berkali-kali lipat itu. Dia tidak hanya menerima tabungan dalam bentuk uang. Tetapi juga menerima ilmu yang Anda tebarkan. Menyambut perilaku baik yang Anda lakukan. Membukukan setiap tindakan terpuji yang Anda kontribusikan. Maukah Anda menabung kebaikan di 'bank' itu?


Pendapatan yang kita peroleh berbanding lurus dengan kontribusi yang kita berikan. Tetapi, kadang-kadang

pendapatan itu tidak kita terima dalam bentuk uang yang bisa kita ambil di ATM; melainkan berupa tabungan yang disimpan di bank yang memberikan bunga hingga 700 kali lipat. Maka jika Anda telah berkontribusi tinggi, namun jumlah uang yang Anda bawa pulang tetap tidak melimpah ruah juga; ikhlaskanlah. Karena kadar keikhlasan kita dalam berkontribusi sangat menentukan berapa kali lipat imbalan yang bisa kita dapatkan untuk bekal di kehidupan akhirat kelak. Selama kita ikhlas, kita juga tidak akan pernah dihinggapi oleh rasa kesal, kecewa, atau penghujatan karena merasa telah diperlakukan secara tidak adil. Dengan keikhlasan itu, kita menambah jumlah tabungan yang bisa dibawa ketika tiba saatnya untuk 'pulang'

26 July 2011

Haruskah Kita bersabar Menanti Masa Depan - D.K

Kita sering gelisah dengan masa depan; akan menjadi seperti apakah hidup saya nanti? Bahkan kadang kita tergoda untuk bertanya kepada para peramal. Berbagai cara kita tempuh agar bisa tahu apa yang akan terjadi nanti. Kita mengira jika mengetahui masa depan maka kehidupan kita akan semakin baik. Benarkah demikian?
Nabi Khidr mengingatkan jika Musa tidak akan bisa bersabar mengikuti dirinya. Nabi Musa pun menyaksikan tindakan-tindakan aneh Nabi Khidr, sehingga dia tidak lagi bisa membiarkannya. Sebelum berpisah Nabi Khidr menjelaskan, mengapa dia melakukan semua tindakannya. Semua itu bukanlah kehendaknya, melainkan atas petunjuk Tuhan yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Saya termasuk yang penasaran dengan masa depan. Dan saya, tentu lebih tidak sabar dibandingkan Nabi Musa. Maka bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bersabar atas rahasia masa depan; saya ajak untuk memulainya dengan memahami dan melakukan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:     

1.     Mengendarai waktu yang menuju masa depan
Selain waktu, tidak ada alat transportasi lain yang bisa membawa kita kepada masa depan. Karena waktu bertugas untuk membawa kita menuju kesana. Maka kendarailah waktu. Dan arahkan dia kepada masa depan yang mana Anda ingin menuju. Sebagai sebuah kendaraan, waktu bisa membawa kita kemasa depan yang nyaman, atau menyebalkan. Jika kita menggunakan waktu untuk melakukan hal-hal yang baik, misalnya. Maka pasti kita akan sampai ke tempat yang baik. Namun jika kita menggunakan waktu untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk, maka cepat atau lambat kita akan dibawanya kepada masa depan yang pasti buruk. Waktu adalah kendaraan yang melekat dalam diri kita. Tidak bisa ditolak. Namun bisa kita kendalikan arahnya, melalui pilihan perilaku dan perbuatan kita dalam detik demi detiknya. Maka apapun yang kita lakukan dalam setiap detak waktu itu, merupakan cara kita dalam memberi arah kepadanya.

2.     Belum tentu kita sanggup mngetahui masa depan yang buruk
Tak seorang pun sanggup menerima berita buruk tentang masa depannya. “Setidaknya, saya bisa bersiap-siap,” mungkin begitu kilahnya. Mari kita bertanya kepada diri sendiri; mana yang lebih mungkin terjadi jika kita diperkenankan untuk mengetahui masa depan kita yang buruk. Apakah kita akan tabah, atau malah semakin gelisah? Saya tidak yakin jika kita akan semakin tabah. Boleh jadi malah kita tergoda menyalahkan nasib; mengapa harus seperti ini? Mungkin kita menuduh Tuhan tidak adil. Atau, mungkin kita berpikir; jika masa depan gue seburuk itu, ngapain mesti susah-susah menjadi orang yang baik? Jadi orang rusak sekalian saja. Kita, belum tentu sanggup untuk mengetahui masa depan yang buruk. Sehingga membiarkannya tetap menjadi misteri, mungkin jauh lebih baik.

3.     Belum tentu kita sanggup mengetahui masa depan yang baik
Kita tahu jika masa depan itu adalah hasil dari masa kini. Apa yang kita lakukan sekarang, sedikit banyaknya menentukan apa yang akan kita dapatkan dimasa depan. Tetapi jika Anda diramalkan akan mendapatkan masa depan yang baik, masihkah Anda bersedia untuk bersusah payah sekarang? Saya tidak yakin. Jika kita sudah tahu ‘akan menjadi orang sukses’ misalnya. Mengapa kita mesti ‘menderita’ sekarang? Bukankah sesuai ramalan kita ‘santai-santai’ pun akan mendapatkan masa depan yang ‘baik’ itu? Sifat dasar manusia adalah untuk mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Jadi jika kita sudah ‘tahu’ masa depan kita akan baik, maka kemungkinan terbesarnya adalah; kita enggan untuk berjuang melintasi jalur-jalur terjal yang menyakitkan. Jika ‘nasib baik’ itu belum juga datang, bisa jadi kita malah menghujat-hujat Tuhan; mengapa Dia terlalu lama menahan semua kebaikan itu? Padahal, apa yang kita lakukan sekarang sangat menentukan apa yang akan kita dapatkan dimasa depan.
           
4.     Mengubah misteri masa depan menjadi kegairahan
Banyak ramalan yang bercerita tentang ini dan itu. Namun kenyataan yang terjadi berbeda sama sekali. Hal itu menunjukkan bahwa tidak seorangpun benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi bahkan sedetik setelah saat ini. Makanya, memaksa masa depan untuk menampakkan dirinya bukan lagi gagasan brilian. Kitalah yang bertanggungjawab untuk membentuk masa depan seperti apa yang kita inginkan. Kitalah yang menentukan akan menjadi seperti apa masa depan kita nantinya. Kitalah yang yang membentuk sosok masa depan diri kita sendiri. Justru karena kita tidak tahu masa depan akan seperti apa; kita termotivasi untuk bekerja keras sekarang. Justru karena tidak tahu apa yang akan terjadi, kita mawas diri kini. Justru karena kita ingin mendapatkan esok yang indah, kita menjadi semakin bergairah. Dan gairah itu akan semakin menggelora, justru ketika kita membiarkan masa depan tetap menjadi misteri.

5.      Que sera-sera - whatever will be, will be
Apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Namun sebelum semuanya terjadi, biarkan kami untuk melakukan apapun yang bisa kami lakukan untuk merengkuh seluruh alunan lagu kehidupan dengan semerdu-merdunya. Apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Namun, sebelum semuanya itu terjadi, ijinkan kami untuk melakukan yang terbaik saat ini. Sungguh, tidak seorang pun yang memiliki masa depan. Karena belum tentu umur kita sampai kesana. Tetapi, setiap orang memiliki ‘saat ini’. Maka pada saat inilah kita berpijak. Dan kita boleh menggunakan ‘saat ini’ yang sudah jadi miliki kita untuk melakukan apapun sebaik yang kita bisa. Dan setelah saat ini berlalu, maka apapun yang akan terjadi, ya terjadilah. Karena setelah semua usaha terbaik kita lakukan saat ini, maka tidak ada sedikitpun kekhawatiran akan masa depan. Inilah yang dikatakan oleh guru kehidupan saya tentang makna tawakkal. Yaitu kita melakukan segala sesuatu dengan benar, sepenuh hati, dan bersungguh-sungguh. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Sang Pemilik masa depan. Biarkan Dia yang menilai, masa depan seperti apa yang pantas diberikan-Nya kepada kita berdasarkan semua yang sudah kita upayakan. Que sera, sera.
Kisah kitab suci tentang Nabi Khidr dan Nabi Musa menegaskan bahwa mengetahui masa depan tidak menjadikan hidup kita ‘normal’. Karena dengan tahu tentang masa depan, mungkin kita akan melakukan sesuatu yang dianggap aneh oleh orang-orang disekitar kita. Oleh sebab itu, mengetahui masa depan bukanlah gagasan yang menarik jika kita ingin hidup layaknya manusia normal pada umumnya. Keindahan hidup kita justru terletak pada misteri yang meliputi apa yang akan terjadi sedetik setelah ini. Jika kita tidak tahu akan mengalami peristiwa buruk, maka sekarang kita masih bisa bahagia. Jika kita tidak tahu akan mengalami peristiwa baik, maka sekarang kita memanfaatkan semua yang ada pada diri kita. Maka jika kita ingin bisa benar-benar menikmati hidup, kita perlu bersabar dalam menantikan masa depan.
Mari Berbagi Semangat!

24 July 2010

Belajar dari Elang (siapa yg nulis ya.. keren)

Elang merupakan jenis unggas yg mempunyai umur paling panjang di dunia, dpt mencapai 70 thn. Tapi utk mencapai umur itu seekor elang hrs membuat keputusan besar pd umurnya yg ke 40.

Saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya mjd sgt berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan sa'at terbang. Sa'at itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan: Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yg menyakitkan selama 150 hari.
Sa'at melakukan transformasi itu, ia hrs berusaha keras terbang ke atas puncak gunung utk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.

Pertama, ia hrs mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tsb terlepas dr mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dgn paruh yg baru tumbuh itu, ia hrs mencabut satu persatu cakar2nya dan ketika cakar yg baru sdh tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yg panjang dan menyakitkan.
5 bulan kemudian, bulu2 yg baru sdh tumbuh. Ia mulai dpt terbang kembali. Dgn paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dgn penuh energi!

Dlm kehidupan, kadang kita juga hrs melakukan suatu keputusan yg BESAR utk memulai sesuatu proses PEMBARUAN. Berani membuang kebiasaan2 lama yg mengikat, meskipun itu adalah sesuatu yg menyenangkan dan melenakan.

Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri utk belajar hal2 baru, kita mempunyai kesempatan utk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dgn penuh keyakinan!
Tantangan terbesar utk berubah ada di dlm diri sendiri dan kitalah sang penguasa atas diri kita sendiri!

17 July 2010

8 KUNCI SUKSES by MOTIVATOR ANDRIE WONGSO

1) KEYAKINAN DIRI
Keyakinan diri adalah kekuatan pendobrak yang luar biasa! Dengan keyakinan diri yang kuat, kita bisa menciptakan prestasi, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

2) BERANI
Memang di kehidupan ini tidak ada yang pasti. Tetapi, kita harus BERANI memastikan dan memperjuangkan segala hal yang pantas kita raih!

* Berani menentukan target.
* Berani mulai melangkah.
* Berani memperjuangkan
sampai sukses.

3) DISIPLIN
Jika Anda ingin sukses, tegakkanlah DISIPLIN DIRI dengan tegas! kalau Anda tunduk oleh perasaan malas, manja dan bosan, maka pasti nasib Andapun tidak akan berubah!

4) KOMITMEN
Bagi orang yang memiliki KOMITMEN dan Integritas Tinggi, mereka tidak pernah merasa takut, ragu atau bimbang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka.

5) ULET
Ulet bukan sekedar sabar, pasif, apatis, pasrah dan bertahan.!!
ULET adalah : Tekad yang mengandung Sikap Antusias, Gigih, Tegar, Proaktif dan Pantang Menyerah..!!!

6) SABAR
Jika ingin sukses, SABAR harus kita miliki!!! SABAR menghadapi orang yang memusuhi dan meremehkan kita, SABAR menghadapi setiap halangan dan tetap berjuang hingga sukses.

Kesulitan ~ Halangan ~ Tekanan ~ Kegagalan adalah : SUPLEMEN FOOD bagi orang-orang SUKSES.

7) TEGAR
Seganas apapun badai di kehidupan ini dia tidak akan pernah menghancurkan insan yang memiliki KETEGARAN, keyakinan dan niat baik.

Kehidupan memang penuh variasi : kadang diuntungkan, kadang dirugikan, kadang sukses, kadang gagal, kadang dipuji, kadang dihina, semua membutuhkan : ULET, SABAR, TEGAR.

8) SYUKUR
JIka setiap bangun pagi kita bisa MENSYUKURI dengan tulus apa yang telah kita miliki hari Ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia.

8 KUNCI SUKSES ini di-Baca dan di-Resapi setiap pagi sebelum anda memulai Aktifitas anda sehari-hari, maka KESUKSESAN akan dapat anda RAIH..!!!

12 July 2010

Menari dalam Api

Tidak lagi kudengar derap dan hentakan tarian negeriku
Sering kulihat tarian negeri ini, namun tidak pernah kudengar hentakannya
Tarian itu seolah hanya sekedar tarian, tidak ada makna dari tarian itu sendiri

Bagaimana negeriku bisa bergerak, bila dalam setiap gerak tarinya tidak ada derap semangat
Bagaimana negeriku bisa mengguncang dunia, bila dalam setiap gerak tarinya tidak ada hentakan semangat

Marilah kita menari dengan irama yang baru, irama negeri ini yang selalu bergelora
Marilah menari dan hembuskan api ke dalam dadamu

Ya.. Ayo menari di dalam api yang menggelora
Api yang selalu membara dan siap membakar siapa saja yang menghalangi langkah kita
Api yang siap menghanguskan bagi siapa saja yang hendak menggagalkan langkah kita
Api yang siap melumat benalu dan lumut serta kerak karat yang melambatkan langkah kita

Ya.. Mari bersama kita menari dalam api
Teruslah menari dalam bara api yang membara
Teruslah bersama kita menari dalam api yang bergelora

Mari menari dalam api

30 March 2009

Sombong vs Percaya Diri

Orang yang percaya diri biasanya mudah bergaul dengan orang lain. Sedangkan orang sombong biasanya malas didekati oleh siapapun. Pasalnya banyak orang yang bingung sebenarnya posisinya ada dimana. Berikut perbedaan antara orang sombong dan orang percaya diri:
  1. Orang sombong menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan orang percaya diri percaya bahwa dirinya memiliki keunikan dan talenta sebagaimana yang dianugerahkan berbeda kepada setiap orang.
  2. Orang sombong seolah selalu tahu apa yang paling baik untuk orang lain. Sedangkan orang yang percaya diri selalu terbuka tentang pendapatnya terhadap orang lain.
  3. Orang sombong biasanya tajam terhadap orang yang ia lihat sebagai saingan. Orang percaya diri sudah lahir dengan kemampuan untuk bersaing.
  4. Orang sombong sulit dan bahkan tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Orang percaya diri tidak takut untuk mengaku bahwa ia melakukan kesalahan.
  5. Orang sombong biasanya suka jika orang lain melakukan kesalahan sedang mereka yang percaya diri suka membantu orang menghadapi kesalahan yang mereka buat.
  6. Orang sombong biasanya sangat peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya. Sedangkan orang percaya diri tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain terhadap dirinya.
  7. Orang sombong biasanya suka membanggakan dirinya, sedangkan mereka yang percaya diri cenderung diam.
Termasuk yang manakah aku... ??