sarikata

ketika sang waktu tidak lagi bersahabat, gunakan hati untuk bermain dengan hari
Showing posts with label Rindu. Show all posts
Showing posts with label Rindu. Show all posts

13 November 2014

dendam rindu



berulang kali kubunuh dirimu
berulang kali engkau bangkit dan muncul dengan congkakmu
dengan pongah kau selalu menginjakku

janganlah engkau senang
karena engkau belum menang
dan engkau tak akan pernah menang

apakah tidak kau lihat apa yang aku siapkan?
ujung panah panah yang siap menusuk jantungmu
sebilah pisau yang sudah aku asah kedua sisinya
yang kusiapkan untuk mencabik dan mengoyak mulut dan hatimu

tetaplah kau mendongak, congkak dan berteriak senang
jangan dulu engkau merasa menang
dalam kesombongan dirimu, aku akan membunuhmu dengan senang

akan kubunuh engkau dalam mimpi kelamku
akan kubunuh engkau sesuka hatiku
akan kucabik dan kukoyak engkau sesuka caraku

kuharap engkau tidak akan pernah mati
karena aku ingin membunuhmu berkali-kali

26 April 2014

60 menit di Vientiane



Waktu menunjukkan pukul 23:00 dan hawa dingin sangat menusuk terasa begitu aku keluar dari mobil. Udara di Vientiane mala mini kenapa terasa begitu dingin, apakah aku salah kostum yaa..? Aku minta tolong Imron untuk kasih aku waktu sendiri dan kalo mau temenin agar cukup ikuti aku dari jauh saja, karena kau memang lagi ingin menenangkan diri dan pikiranku.

Dinginnya udara Vientiane makin membuatku membeku dalam lelah, kususuri Rue Francois Nguin yang sunyi. Kakiku terus berjalan menuju taman kecil yang ada di tepi sungai Mekong, disanalah aku berjanji bertemu Vienna-ku. Masih terngiang di pikiranku kalimat di email yang dia kirim 5 hari lalu, bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengendalikan dan membelenggu sebuah hati. Namun bila memang hati itu telah terikat satu sama lain, terpisahkan oleh apapun mereka akan tetap berbicara meskipun hanya lewat tanda dan rasa.

Vienna sangat jarang dan hampir tidak pernah mengirimkan email, bahkan setelah perpisahan kami yang lebih dari 6 tahun, email dari dia tidak lebih dari 10 kali. Namun entah kenapa, kami selalu bisa merasakan bila salah satu dari kami sedang dalam belenggu keletihan dan kepenatan di hati kami.

Tak terasa 10 menit sudah aku berjalan dan telah tiba di tepian sungai Mekong, aku duduk di salah satu bangku yang ada di taman dan 15 menit lagi Vienna akan duduk disampingku. Setelah lebih 6 tahun kami tidak pernah bertemu, seperti apakah Vienna saat ini? Sosok yang sempat mengisi hidupku selama lebih dari 3 tahun, sosok yang mengenalkan aku akan hati, sosok yang mengenalkan aku bagaimana caranya kita menjadi manusia, sosok yang mengenalkanku akan ketidak sempurnaan, sosok yang sangat sabar menjadi penyeimbangku saat aku mulai limbung. Namun ternyata perjalanan hidup menuliskan hal berbeda dengan rencana kami, akhirnya kami terpisah jarak dengan waktu tempuh hampir 15 jam dengan menggunakan pesawat terbang. Memang  kebersamaan kami tidaklah lama, entah kenapa hati kami seolah masih selalu bersama.

Samar kulihat sosok anggun dengan gaun putih kombinasi kerudung garis warna biru mendekat ke arahku, masih sangat bersahaja dengan senyum yang bisa meneduhkan siapapun yang memandangnya. Sorot matanya yang tajam namun teduh, benar-benar sangat aku kenal dan merupakan sorot mata yang selalu bisa membuatku melembut. Tutur katanya yang lembut dan sorot matanya yang meneduhkan, benar-benar kombinasi yang sangat membuatku nyaman disertai dengan kelembutan belain tangannya. Ya Allah, gerangan apakah yang aku rasakan saat ini?

Ada rasa rindu, sedih, sakit, bahagia, senang dan rasa lainnya yang tak terlukiskan saat kami bertatap muka. Tak kuasa kumenahan air mata untuk menetes keluar, seolah kuingin mengadu bahwa aku sangat-sangat merindukan dan membutuhkan dia. Kami memiliki waktu yang sangat sedikit dan terbatas, karena aku harus pergi lagi sebelum pukul 23:50. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya sekedar kabar dan aktifitas apa yang kami kerjakan sekarang. Memang benar kalo cinta tidak akan pernah salah, karena ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Bukan aku yang mencari dirimu atau kamu yang mencari diriku, tapi cinta tepah menyatukan dua hati yang berbeda.

60 menit di Vientiane dan 20 menit pertemuan kami, benar-benar memiliki arti jauh lebih besar daripada jarak dan waktu tempuh yang harus kami jalani. 20 menit yang sanggup mengobati kegundahan hati kami, 20 menit yang telah menunjukkan ke kami bahwa hati kami masih bersama, 20 menit yang membuka mata kami bahwa masih ada cinta disana.

12 December 2013

Senja Kerinduanku



Senja kedua di tepi lereng, kutepekur aku diatas batu lempeng dibawah pohon pinus
Dengan ditemani sebotol kopi dingin dan kacang rebus
Cahaya senja menyeruak manja dibalik awan kelabu
Selamat sore senjaaa…. seperti biasanya aku menyapa dan menikmatimu

Aku mulai berkhayal tentangmu
Imajinasikupun berkembang bersama lembayung
Bayangan senja yang selalu menghadirkan rasa, rasa yang begitu indah dan menenangkanku
Tanpa kehadiranmu disisiku, aku nikmati indah bayanganmu
Tanpa anggun senyummu yang terindah, akankah kita bertemu
Senja… entah kenapa engkau enggan menatapku
Kau sembunyi dibalik awan kelabu.. apakah engkau tak tahu isi hatiku..
Aku merindumu tanpa mengenal batasan waktu…
Senja… apa kabarmu disana?

Saat sang mentari mulai beringsut di ufuk barat, engkau mulai menggeliat syahdu
Dengan pesonamu yang memerah jingga manja, engkaupun berirama merdu
Senja.. aku terpesona dibuatmu dalam duniaku yang begitu abstrak dan terasa absurd
Semua terasa berbeda, aku begitu memujamu..
Senja… sedang apa dirimu?

Senja.. engkau bukan malam ataupun pekat pilu
Engkau begitu hangat, belaimu terasa sejuk..
Tiada rasa panas menyengat atapun dingin yang begitu menusuk..
Engkau begitu sederhana, apa adanya.. tanpa geliat jemu
Meski mata tak selalu bertemu, namun batinku selalu setia memeluk angan dan imajinasimu
Senja… mungkinkah engkau menjelma nyata?

Lebih dari sekedar rasa terindah, nyata bersamamu aku bahagia
Senja, rasa ini begitu nyata… bukan seperti bayangan fana atau imajinasi klise-ku
Manja sikapmu mengurai keteduhan disetiap alur rasaku..
Engkau selalu membawaku dalam bulir-bulir rindu
Begitu merindu… merindu biru.. merindu syahdu
Senja… aku rindu kamu

Inikah yang dinamakan rindu? Kembali aku imajinasikan sosokmu..
Sensasi rindu ini seperti awan, terlihat tebal dan padat membatu..
Namun sebenarnya begitu rapuh
Rapuh akan waktu yang belum ijinkan untuk bertemu
Senja.. akankah bertahan rasa rindumu?

Terbayang indah masa depanku bersamamu
Kita nikmati tiap detik yang sempurna berbalut cinta darimu
Egoiskah diriku untuk ingin selalu bersamamu? Menikmati hal terindah dan termanis setiap waktu
Meski akhir rasa ini tampak begitu kelabu, keyakinan akan cinta terindah akan bersatu
Seperti saat ini, keyakinan yang akan selalu mempertemukan kita pada sebuah tempat yang dinamakan rindu
Senja… dalam setiaku aku merindumu

Dalam keyakinanku, entah kenapa begitu nyata dan membiru
Dalam semburat jingga, aku merasakan pipimu yang tersipu malu
Dalam semilir angin, aku merasakan belaianmu disekujur tubuhku
Dalam kehangatan mentari menuju peraduan, aku rasakan dekapanmu
Senja.. aku tetaplah sama seperti kemarin dan kemarinnya hari sebelumnya, tetap diriku
Meskipun waktu merubah waktu setelahnya, aku masih disini menunggumu
Senja.. aku masih setia bersama bayangmu

Meski senja masih tetap sama, aku masih selalu mengagumimu, mengagumi setiap detil tentangmu
Meski rasa ini belumlah sempurna, namun engkaulah hal terindah dalam hidupku
Senja.. setiaku bersama rinduku untukmu
Senja.. kuingin memiliki dirimu, hatimu, duniamu dan cintamu

Sore ini, kembali kubayangkan dan kugambarkan duniamu dengan pesonamu yang baru
Memasungku dalam waktu dan debar kerinduanku, debar asa nan syahdu
Dirimu dan cintamu begitu nyata, menjelma dalam setiap angan dan mimpi terindahku
Dalam mimpi itu, kau buat hatiku pada satu keyakinan.. bahwa hatiku hanya untuk kamu
Tempat dimana hatiku berlabuh
Tempat dimana akan aku habiskan sisa hidupku
Tempat dimana cintaku berakhir… bersamamu
Senja… aku sayang kamu

Bila esok aku tak sanggup bermimpi kembali, sadarkan aku dan terbangun menatap indah matamu
Tiada lagi yang akan mampu menampar kehampaanku, hanya dirimu
Namun.. bila senja tak lagi sama, akankah aku tetap berarti dan bermakna di duniamu
Akankah kerinduan akan hadir saat kita terpisah jarak, ruang dan waktu
Senja.. sungguh aku mencintaimu tanpa logika yang tak akan pernah kau tahu
Senja.. sungguh aku mencintaimu tanpa ada keinginan untuk berhenti mencintaimu

Saat matahari makin surut, bayangmupun makin kelabu
Kulantunkan namamu dalam senandung rindu
Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu dan merindumu
Senja.. tahukah kamu? Aku jatuh cinta ditiap gerak keanggunanmu
Memimpikanmu, hadirkan anugerah sempurna yang terindah ditiap malamku
Senja.. setitik cahayamu, telah menyinari waktuku
Kau ajarkan aku apa arti merindu
Senja.. akankah kita bertemu kembali?

Aku rindu kamu, tanpa mengenal waktu

* inspirasi : Rama Shinta, Senjakala

17 October 2013

Lelahku dalam Penat



kembali aku terbangun dalam pekat, saat alam masih terlelap
saat waktu baru saja berjalan gontai melewati tengah malam yang begitu senyap
entah kenapa, ini malam ke-5 aku tersadar dalam genang air mata
Ya Allah, gerangan apa Engkau akan bercerita
Ya Allah, gerangan apa yang tak tampak oleh mata

terasa penat aku rasakan, penat yang begitu mendesak rasa
sangat pedih dan lelah kurasa
begitu lelah dalam penat
begitu letih dalam pekat
entah kenapa malam-malam ini tidak seperti malam-malam yang terlewat

ingin aku lari ke hutan, agar bisa aku sembunyikan semua rasa
ingin kupanjat tebingMU, agar aku bisa teriak melepas sesakku ke angkasa
ingin kupergi ke lautan lepas dan aku hanyutkan segala penat ke samudra
kadang ku bosan dalam penat
ingin kulempar dan kuenyahkan segala pekat
namun tidaklah mudah kubiarkan semua rasa terlewat

begitu letih kurasa penat
begitu lelah kulihat pekat
sesaat sekejap kutercekat
penat letih yang mengusung kelelahan
pekat dan lelah seperti mencari jalan penentuan
penat lelah letih pekat menaklukan ranjau kehidupan dan menggapai angan

atas namaMU aku berjanji
tak akan menyerah hati ini
bila pekat ini sebuah kerinduan, aku yakin ini karena rasa rinduku padaMU
bila penat ini sebuah cinta, aku yakin karena cintaku padaMU
takkan lelah kutahan rasa lelah ini
takkan letih kutahan rasa letih ini

alam telah bersaksi dalam senyap
diriku, hatiku, jiwaku, cintaku dan kerinduanku
hanya untukMU Ya Khaliq
semuanya aku persembahkan hanya untukMU Ya Quddus
dan aku bersimpuh hanya untukMU Ya Malik
Ya Rahman Ya Rahim

lelahku dalam penat merinduMU