sarikata

ketika sang waktu tidak lagi bersahabat, gunakan hati untuk bermain dengan hari
Showing posts with label bahagia. Show all posts
Showing posts with label bahagia. Show all posts

13 June 2014

tangisan amarah





Tuhan penguasa hati, ijinkan aku tersenyum malam ini…
Jangan biarkan air mataku ini terus mengalir…
Hentikanlah linangan air mata ini dan jangan biarkan dia membasahi peraduanku..
Aku ingin tetap merasakan keindahan ini, walaupun telah mati rasa untuk bahagia

Tuhan penguasa hati, sembuhkanlah luka yang ada di hati ini
Jangan biarkan air mata ini meluap dan berubah membiru menjadi air methanol
Saat teriakan akan sakit yang ada di hati ini berubah menjadi percikan amarah
Amarah karena ketidak berdayaan
Amarah karena sakit yang sudah melampaui rasa sakit itu sendiri

Tuhan penguasa hati, jangan biarkan kekecewaan ini melepaskan aumannya
Auman yang menggelegar dan mengerikan…
Auman amarah yang makin berkobar, karena linangan air mata yang tak kunjung redam
Amarah yang akan menghilangkan semua kata maaf untuk mencari secuil alasan atas sebuah pembenaran

Akupun akhirnya hanya bisa diam, lebih kupilih diam dalam lelap
Kulelapkan hatiku dalam malam, yang mungkin akan lebih baik dibandingkan amarah yang menguras tenaga…
Namun diam juga merupakan bagian yang jauh-jauh lebih mengerikan dibandingkan amarah itu sendiri…
Karena hati menyimpan luka, luka yang akan menggoreskan dendam
Karena yang aku tahu hati tidak lebih kuat dari waktu

Entah sampai kapan bisa aku simpan peledak yang siap menghancurkan segalanya
Namun aku tidak ingin kalah, ini adalah tangisan atas amarah
Aku tak ingin kalah oleh waktu, waktu yang bisa meredam segalanya dengan sempurna
Walapun jujur, aku lelah
Tangisku sudah menjadi amarah
Iyaa… sebuah tangisan amarah

28 March 2014

Apakah itu Kebahagiaan (give generation)



Kebahagiaan… adalah sebuah rasa dalam suatu kondisi atau keadaan yang aman, nyaman, damai dan gembira. Dan rasa ini sangat berhimpitan dan berkaitan dengan kegembiraan, dimana pada umumnya rasa ini terkait erat dengan suatu rasa kepuasan atau sebuah kejadian terhadap pencapaian sesuatu. Dan ada juga orang yang menjadikan kebahagiaan adalah sebagai tujuan hidupnya, apakah kebahagiaan bisa menjadi tujuan hidup?

Kebahagiaan adalah bagian dari sebuah rasa, dan apakah rasa itu sendiri? Rasa merupakan unsur bathin yang memiliki sifat dasar mengalami suatu kejadian. Tanpa rasa, kita tidak akan pernah mengalami suatu kejadian atau keadaan atau keinginan dan kita tidak akan pernah tahu bagaimana bentangan akan kebahagiaan dan ketidak bahagiaan. Tingkat pengetahuan dan intelengensi, juga mempengaruhi tingkat kebahagiaan masing-masing individu.

Lantas apakah kebahagiaan masih bisa kita jadikan tujuan kita? Perlu kita ketahui bahwa sebuah kebenaran mendasar, tidak ada seorangpun individu manusia ingin tidak bahagia serta bisa dipastikan semua individu manusia ingin bahagia dan selalu bahagia. Namun tidak sedikit individu yang mengejar kebahagiaan tidak menemukan kebahagiaan itu, dan semakin dia kejar semakin terasa jauh kebahagiaan itu. Apakah kita sadar bahwa sebuah kebahagiaan “biasa” adalah sebuah penderitaan dari/karena perubahan.

Lantas bagaimana kita untuk mencapai dan merasakan kebahagiaan itu? Ternyata caranya cukup sederhana, kita cukup memiliki keinginan, cita-cita ataupun harapan, dan semua itu adalah sebuah hasrat diri. Tapi jangan jadikan kebahagiaan itu menjadi hasrat, karena bila kita menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan dan bisa dipastikan kita akan selalu dalam kondisi tidak bahagia. Kenapa demikian? Karena individu yang mengejar kebahagiaan, adalah individu yang tidak pernah puas akan kebahagiaan disekitarnya dan dia selalu akan mengalami kegelisahan, ketakutan serta ketidakpuasan yang ujung-ujungnya akan merasakan ketidak bahagiaan. Individu-individu yang mengejar kebahagiaan adalah individu yang egois, serakah, ambisius berlebihan dan individu yang selalu iri serta takut kehilangan individunya sendiri.

Pada dasarnya kebahagiaan itu sifatnya tidaklah kekal dan manusia tidak akan pernah merasa puas akan kebahagiaan yang dia rasakan, karena tidak ada sebuah kebahagiaan sejati. MIsal jika kita es krim adalah sebuah kebahagiaan sejati tentunya semakin sering dan banyak kita makan es krim disetiap kesempatan, kita akan menjadi lebih bahagia. Namun kenyataannya semakin sering dan banyak kita makan es krim, makin cepat kita mencapai titik ketidak bahagiaan dan makan es krim menjadi sebuah penderitaan atau penyiksaan.

Demikian juga semisal kita menginginkan sebuah kedudukan atau pangkat atau harta, saat kita mencapainyapun kebahagiaan itu hanya sesaat menghampiri diri kita dan kita rasakan. Karena saat kita berada diposisi merasakan kebahagiaan tersebut, saat berikutnya kita akan merasakan kegelisahan. Kegelisahan karena ketakutan kehilangan yang kita raih, atau kegelisahan karena kita menginginkan sesuatu yang lebih dari yang kita raih saat ini, atau kegelisahan karena kejenuhan atas apa yang kita raih saat ini. Lantas bagaimana caranya kita merasakan kebahagiaan sesungguhnya dan jangka panjang? Semuanya terletak pada rasa syukur dan bagaimana kita bisa menahan diri.

Bagaimana cara menggapai nilai kebahagiaan tertinggi dan berkelanjutan? Yakni dengan membangun kebiasaan untuk selalu bersyukur dan menahan diri dari keinginan, cita-cita ataupun hasrat yang berlebihan. Menahan diri untuk tidak berpikir, bertindak, ataupun berbicara merusak dibawah pengaruh sikap dan perasaan gelisah, serakah, melaknat, marah ataupun hal-hal yang menjijikkan. Semuanya itu berakar pada nurani atau keluguan, perilaku seperti ini adalah sebuah perilaku yang membangun.

Bila perilaku membangun ini kita miliki, perilaku ini akan membangun daya bathin kita secara berkesinambungan dan daya bathin kita akan menjadi semakin matang. Kematangan bathin ini akan menjadikan kita individu yang sederhana, individu yang tidak melebih-lebihkan ataupun menyangkal kebaikan atau keburukan yang kita terima. Dan kematangan bathin ini akan menjadikan kita pribadi dengan cita-cita ataupun hasrat yang jauh dari kekhawatiran dan lebih tenang. Dalam ketenangan dan keheningan ini, kita akan merasakan impuls kebahagiaan yang lebih besar dimasa datang dan berkesinambungan.

Dengan kematangan bathin ini, kita lalu memperluas cita-cita kita dengan mengalihkan perhatian kita pada masalah-masalah orang lain dan bahwa mereka mungkin berada dalam keadaan yang lebih buruk dibanding keadaan kita. Kita berhenti memikirkan hanya diri kita. Kita berpikir betapa indah jika semua orang dapat bebas dari penderitaan mereka, dan betapa luar biasa jika kita bisa membantu mereka untuk mewujudkannya. Rasa welas asih yang kuat ini tentunya menuntun kepada rasa kasih dan keinginan bagi mereka untuk bahagia. Berpikir tentang kebahagiaan mereka semakin memicu daya bathin kita menjadi lebih matang.

Dengan pikiran-pikiran welas asih dan kasih ini, kita kemudian mengarahkan pikiran-pikiran kita untuk turut bertanggung jawab dan benar-benar mencoba membantu orang lain. Ini membantu kita memperoleh kekuatan dan keberanian untuk memecahkan hal yang tidak hanya masalah-masalah orang lain, melainkan juga masalah-masalah kita sendiri. Tapi sekali lagi, tanpa melebih-lebihkannya dan tanpa kekhawatiran-kekhawatiran tentang kegagalan atau harapan-harapan tentang keberhasilan.

Apakah saat ini kita sudah merasakan rasa kebahagiaan itu? 

* sudah siapkah kita dan generasi kita menjadi bagian dari "give generation"

27 February 2014

kebahagiaan tidak selalu hadir dari kesenangan



Kebahagiaan tidak selalu hadir dari kesenangan, kalimat sederhana namun kadang sulit untuk dimengerti. Karena secara umum banyak yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu sama dengan kesenangan, jadi hidup yang penuh dengan berbagai macam kesenangan pastilah hidup yang bahagia.

Apakah itu kesenangan? Dalam kehidupan sehari-hari kata “bahagia dan senang” silih berganti digunakan atau bersamaan, seolah-olah keduanya adalah padanan kata. Padahal pada kenyataannya orang yang bahagia pasti senang, namun orang senang belum tentu merasakan kebahagiaan. Jadi sesungguhnya kesenangan sendiri memiliki makna yang sangat materialistic dan semua hal yang memiliki sifat materialistic hanya sesaat.

Manusia modern saat ini cenderung materialistic dan terjebak dalam kapitalis, masyarakat yang mengagungkan kenikmatan duniawi dengan pencarian harta sebanyak-banyaknya yang kemudian dihabiskan untuk bersenang-senang secara fisik dan inderawi. Mereka-mereka yang mencari hidup dengan penuh kesenangan, adalah mereka-mereka yang hanya mencari kepuasan diri atas berbagai keinginan dan bentuk kesenangan lainnya. Mereka ini adalah manusia-manusia yang berpikir bahwa kebahagiaan adalah ketika sebanyak mungkin kesenangan yang mereka telah miliki. Namun ternyata banyak bagian dari mereka yang memilih hidup seperti ini akhirnya menghadapi masalah.

Sebenarnya manusia modern saat ini telah kehilangan makna hidupnya, mereka menjadi manusia kosong. Manusia yang sibuk dan tidak punya waktu untuk diri hakikinya, dia hanya melakukan penyesuaian diri dengan trend. Dia sendiri merasa berjuang keras untuk memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya dia telah diperbudak oleh keinginan orang lain dan keinginan sosial.

Berdasarkan penelitian social psikologis oleh Dr. Martin Selignman, ia menyatakan bahwa kesenangan itu memiliki batas, memiliki titik jenuhnya dan akan berbeda-beda untuk tiap manusia.

Dalam islampun disebutkan dalam QS Al-Hadiid:20, “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kenikmatan yang menipu [kesenangan yang palsu]

Lantas bagaimana dengan kebahagiaan itu sendiri? Setiap manusia tujuan hidupnya adalah mencari kebahagiaan yang hakiki, namun tidak sedikit orang akhirnya terjebak dalam kesenangan. Kembali lagi pada Martin Selignman, dalam bukunya Authentic Happines menjelaskan bahwa secara umum 3 bentuk kebahagiaan yang dicari manusia dalam kehidupannya adalah pleasant life, good life dan meaningful life.

Pleasant life atau kesenangan hidup, telah kita bahas sebelumnya bahwa kesenangan sifatnya semu dan akhirnya membawa kita pada kehidupan yang serba materialis. Konsep kesenangan hedonis ini yang akhirnya membuat alam bawah sadar manusia menjadikannya sebagai tujuan hidup, atau kita bisa sebut gambaran bagi manusia yang terjebak dalam pemuasan atas segala kesenangan adalah “hedonic treatmill”. Karena pencarian pemuasan terhadap kesenangan seperti orang berlari di reatmill (berlari di tempat), sebab sebenarnya dia tidak pernah kemana-mana.

Sebuah riset terhadap kinerja otak manusia juga menemukan bahwa tingkat kesenangan dalam hidup tidak sebanding dengan tingkat kebahagiaan. Yang artinya tidak selalu pencapaian kesenangan memberikan kepuasan hidup dan kebahagiaan hidup bagi manusia.

Good life atau kenyamanan hidup, ini hampir sama dengan kesenangan hidup. Karena di taraf ini manusia justru cenderung untuk malas beranjak, karena segala kebutuhan hidupnya terpenuhi. Baik secara material, social, dan perasaan aman, nyaman, damai serta tentram. Sampai suatu waktu tertentu situasi ini behenti dan saat itulah semua hal menjadi tidak nyaman, serta berbagai masalah yang mulai muncul satu persatu. Tidak sedikit pula manusia yang keluar dari zona ini yang mengalami gangguan psikis, kecemasan yang berlebihan, prilaku menyimpang dan psikomatis.


Meaningful life atau hidup bermakna, ditahap ini manusia lebih mencari pemahaman atas tujuan dan kebutuhan hidupnya. Selain dia memikirkan tujuan atas dirinya sendiri dan keluarganya, dia tidak melupakan kabaikan dan kebahagiaan orang lain serta lingkungan disekitarnya. Rasa kebahagiaan yang dirasakan adalah ketika orang lain merasakan kebahagiaan karena usaha dirinya, kebahagiaan untuk saling berbagi dan membantu. Sebuah perasaan yang dipenuhi dengan rasa nyaman dan bahagia.

Kebahagiaan tidak selalu hadir dari kesenangan, namun kebahagiaan selalu hadir saat kita ditengah-tengah orang yang berbahagia karena diri kita. Hati yang tunduk dan ikhlas adalah kuncinya, sikap yang ingin selalu memberikan yang terbaik dan tidak hanya memberikan kesenangan sesaat. Sebagaimana kita ketahui akan arti sedekah yang sesungguhnya (baca :give generation), daripada kita memberikan hal yang berupa fisik (uang, makanan, dll) lebih baik kita memberikan peluang dan kesempatan yang manfaatnya jauh lebih besar.

Ketundukan dan keikhlasan membuat manusia untuk hidup wajar dan mampu menghadapi masalah dengan cara bijak. Manusia seperti ini akan mampu mengambil atas segala hikmah atas kesulitan dan kegagalan yang dialami. Dengan demikian jelas bahwa pokok dari kebahagiaan seseorang adalah terletak pada hatinya, hati yang tunduk dan ikhlas. Manusia seperti ini yang mampu mengenal akan memaknai hidup, tujuan hidup dan pemahaman atas hidupnya. Dimana setiap detik hidup yang dilaluinya, akan bermakna tanpa kesia-siaan. Namun sering manusia yang seperti ini pula, dilingkungan yang penuh materialistic dan hedonism akan terlihat asing dan aneh.